Sifat Kekanak-kanakanmu, Solusi hidupmu (Versi 1 Sampah)

Sebagai seseorang yang ingin diapresiasi dan diterima oleh masyarakat lain, membuat beberapa dari kita beradaptasi dengan trend dan standart budaya yang ada. Meskipun ada kalanya yang kita lakukan, sebenarnya tidak kita butuhkan. Misalnya pemilihan merk smartphone. Kalau hasil riset IDC (International Data Corporation) pada kuartal ke-3 perekonomian Indonesia tahun 2017, Samsung merajai pasar dengan 83,3 juta. Kemudian baru disusul produk Apple sebesar 46,7 juta unit. Tentunya konsumen yang memilih produk tersebut memiliki beragam alasan. Lalu bagaimana dengan kamu sendiri? Kenapa akhirnya kamu memilih smarphone mu saat ini?

Terlepas dari pemenuhan gaya hidup dan gengsi sosial, hari ini kita tidak bisa menolak kebutuhan memiliki smartphone untuk mendukung aktivitas keseharian. Mungkin kalian pernah merasakan keajaiban smartphone atau media sosial. Dari media sosial, didapat kemudahan berdiskusi dengan orang terkasih, tanpa harus bertemu secara fisik. Melalui jejaring sosial juga bisa didapat info beasiswa; trend terkini; gosip tentang orang sekitar; jodoh; sampai bocoran soal ujian. Dimana hal itu seringkali  menyelamatkan aktivitas akademik dan hubungan dengan orang sekitar.

Hasil survei 2016 yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukan, pengguna mobile internet di Indonesia sebesar 98,2 juta, sedangkan smartphone mencapai 63,1 juta penduduk. Kemudian muncul pertanyaan, besarnya angka pengguna smartphone di Indonesia dapatkah mengisyaratkan pemakai-nya adalah seseorang yang selalu smart atau bijak? Sehingga harusnya Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri RI, tidak perlu menangkap Saracen sebagai kelompok buzzer atau produsen hoax, terkait isu SARA dan politik yang sempat meresahkan.

Begitupun jika dikaitkan dengan tema lain, seperti kedewasaan atau kematangan tingkah laku. Badan boleh bertumbuh dan umur bertambah. Tetapi, apakah diri kita otomatis beradaptasi dan berperilaku sesuai posisi sosial atau umur kita?

Belum tentu orang dewasa, selalu bisa menyelesaikan masalahnya
Bagaimana kamu mendefinisakan orang dewasa? Orang yang sudah berusia di atas 20-an, bekerja, menikah, atau selalu bisa bertanggung jawab atas dirinya (termasuk dalam hal menyelesaikan masalah) ? Lalu bagaimana dengan seseorang yang sudah menikah dan memiliki anak, tetapi gagal berperan menjadi orang tua, padahal usianya telah memasuki fase dewasa? Di sisi lain, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015, menyatakan 2 juta dari 7,3 juta perempuan dengan rata – rata usia 15 tahun di Indonesia sudah menikah. Soal pernikahan di bawah umur, Indonesia menempati urutan kedua di kawasan Asia Tenggara, setelah Kamboja.

Apakah kamu sempat menikmati atau mendengar berita tentang MTV Insomnia yang dihentikan penayangannya? Selain karena MTV Insom dirasa belum bisa menyajikan tayangan mengedukasi, penghentiannya juga menjadi upaya pemerintah mengurangi insomnia. Dari 150 juta penduduk global di negara berkembang yang mengalami insomnia, Penduduk Indonesia menyumbang 28 juta. Dimana menurut spesialis kejiwaan dr. Yuniar, Sp.Kj, bukan lagi lansia yang mendominasi gangguan insomnia, melainkan usia remaja dan dewasa. Perilaku insomnia bisa diakibatkan oleh beberapa faktor seperti jam kerja dan beban akademik berlebihan, ditambah tekanan dari harapan diri sendiri atau lingkungan sekitar.

Di tulisan sebelumnya, dikatakan kalau insomnia bisa jadi karena gangguan pola tidur. Tetapi, permasalahan tiap orang berbeda, termasuk tingkat kemampuan menyelesaikan masalah. Menurut dr. Andri, Sp.Kj, FAPM Seorang Psikiater, kasus insomnia dapat disebabkan karena gangguan kecemasan dan depresi. Apabila tidak tertangani dengan benar, bisa jadi orang yang mengalami depresi memutuskan beristirahat selamanya.

Salah satu pasien dr. Andri berusia 45 tahun, sempat mengalami masalah finansial karena usahanya bangkrut dan terjerat kasus hukum perdata yang belum terselesaikan sampai saat konsultasi tersebut. Persoalan yang belum selesai, membuat pasien itu kesulitan tidur selama tiga bulan, sering melamun, dan merasa sangat lelah, serta tak bergairah dalam menjalani hidup. Selama proses konsultasi, terungkap bahwa kurangnya dukungan orang sekitar, semakin memperburuk suasana hatinya, sehingga sempat terfikir olehnya untuk mengakhiri cerita di dunia.

Agar bahagia, terkadang orang dewasa perlu bersikap ‘kekanak-kanakan’

Kebahagian setiap orang tentu berbeda, sehingga sifatnya relative. Tetapi ketika bisa menyelesaikan masalah, berarti juga ada peluang bahagia, kan? Karena ada sensasi lega. Sayangnya terkadang beberapa cara menyikapi masalah tidak kunjung berhasil, sebab pengetahuan tentang konsep diri kita belum selesai.

Konsep diri membantu kita mengenali perasaan yang muncul dalam keseharian, misalnya ketika menghadapi tekanan, ada orang yang cenderung melakukan aktivitas makan untuk melampiaskan stress yang dirasakan. Lebih jauh, konsep diri juga mampu menjelaskan kekurangan, kelebihan, dan nilai yang kita anggap ideal. Nilai ideal tersebut menjadi standart seseorang menganggap sesuatu itu benar atau salah.

Setelah mengetahui konsep diri, jika kita memutuskan menerima diri sepenuhnya. Maka itu membantu kita fokus memaksimalkan potensi. Serta berdamai dengan diri sendiri, yang dapat dilanjut mencari solusi permasalahan dengan lebih optimis. Terkadang kita perlu belajar jenaka atau mengambil sisi positif dari sifat anak – anak, yang bisa jadi membantu menemukan konsep diri yang selama ini coba diabaikan.


Bertumbuh dengan penuh kesadaran tentu akan memberikan rasa dan hasil berbeda untuk mereka yang selalu mencari perubahan lebih baik -Erwin Parengkuan, Praktisi Komunikasi

Komentar

Postingan Populer