Gerakan Kepemudaan #Sekolah Tjokro

Gerakan Kepemudaan dan Rasa Syukur

Biasanya tulisan yang berkaitan tentang Pemuda selalu memaparkan peran besar Pemuda dalam pembangunan bangsa.Menunjukan bukti sejarah dari sumpah pemuda sampai hari proklamasi tiba dengan asumsi Pemuda adalah agen perubahan yang menawarkan masa depan, dimana hal tersebut juga perna saya lakukan ketika lomba essay.Namun kali ini saya akan memulai pembahasan dari Negeri Tirai Bambu, China.

Mengapa China disebut sebagai Negara Tirai Bambu dan Nabi Muhammad memberi saran untuk Kita agar belajar sampai ke Negeri China,karena China terbangun dari peradaban.

Perabadan hadir karena ada proses partisipasi seluruh masyarakatnya dalam membangun tradisi atau budaya yang kemudian membentuk kearifan lokal,sehingga menekankan adanya belajar dengan keterampilan proses.Dari belajar keterampilan proses tersebut,dapat membentuk masyarakat yang terus berinovasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,beiringan dengan terbangunnya etos kerja yang sangat luar biasa seperti mandiri,courisity,pekerja keras,dan tahan banting, yang semua itu sebenarnya sejalan dengan ajaran Islam untuk senantiasa iqra (bukan sekedar membaca al quran,namun juga semesta alam).Ada masa dimana China mengisolasi diri untuk mempersiapkan warganya mengahadapi globalisasi,oleh karena itu China disebut sebagai Negara Tirai Bambu.

Setelah fase mempersiapkan diri,sekarang China telah membuktikan diri menjadi negara yang sangat berpengaruh dalam pergerakan ekonomi dunia.China menjadi bagian organisasi kompetitor IMF.Sebenarnya jika secara logika hal tersebut akan memperpuruk perekonomian China karena harus membantu perkembangan negara lain yang sedang berkembang dengan menyokong dana,namun hal tersebut dilakukan agar dapat memaksimalkan SDM China dalam bidang ketenagakerjaan dan strategi penguatan pengaruh ekonomi China.

Selain menguatkan pengaruh di luar negeri,China juga melakukan pembangunan dalam negeri yang dimulai dari desa.Bung Hatta perna berkata "Indonesia terang bukan karena obor besar di Jakarta,namun karena kumpulan lilin yang tersebar di seluruh Desa Indonesia".Kemudian yang ingin ditekankan adalah negara akan kokoh + sejahterah,dengan memulai pembangunan sosial (menggabungkan sosio-ekonomi) desa,jika hal tersebut dilakukan dan sukses maka akan beiringan dengan berkurangnya kecenderungan Pemuda untuk melakukan urbanisasi ke kota pusat yang semakin lama menjadi gemuk dan penuh tambahan permasalahan.Ketika desa sudah dioptimalakan sumber daya dengan kearifan lokalnya,maka akan ada peluang besar bagi Pemuda mengaktualisasikan diri dan menjadi kader pembangunan yang berkelanjutan,ketika itulah terjawab mengapa pemuda menjadi poros nasib bangsa/agen perubahan.Konsep tersebut dapat semakin mudah terwujud dengan adanya gerakan kepemudaan yang bersifat kedaeraan (bukan secara pemikiran yang besifat daerah yang identik dengan tertinggal dan tidak ingin bersatu),memberdayakan sesuai kearifan lokal.Indonesia sejahterah dapat diindikasi dengan masyarakatnya yang MANDIRI.Gerakan kepemudaan adalah bentuk jawaban untuk tidak bergantung pada pemerintah,bernafasakan persatuan (nasional) tanpa hilang identitas asal daerah.

Setelah menyinggung tentang gerakan kepemudaan,saya akan membahas tentang rasa syukur.Ada hubungan apa diantara keduanya.

Saya adalah mahasiswa Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan,Fisipol,UGM. Ketika hari ini Sabtu,15 Oktober 2016 menjalani Sekolah Tjokro,saya menjadi begitu bersyukur berada di jurusan saya dan semakin memahami visi jurusan.Hari ini saya semakin yakin untuk dapat expert di bidang managerial strategi penyelesaian permasalahan pembangunan sosial khususnya pada sektor pendidikan.Sejak kecil saya bercita - cita bisa mengajar di daerah pedalaman,karena sewaktu SD saya terinspirasi dengan Yohannes Surya.Jujur,sampai saya perna bilang ke Ibu sewaktu SD "Aku ingin ngajar di Papua,Bu".Lalu beranjak SMP,SMA,hingga hari ini Mengajar adalah passion dan pengabdian saya.Di sana saya merasa bahagia.Lalu apa hubungannya Sekolah Tjokro dengan rasa syukur ada di departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan,karean ketika materi Hari Sabtu disampaikan dan ada FGD pemecahan studi kasus,saya sangat terbantu dengan ilmu dan pengalaman riset di jurusan.

Kasus yang harus dipecahkan beserta jawaban :

1.Ada sebuah organisasi yang sudah berdiri sangat lama tetapi belum berbadan hukum dan oreintasinya sosial/non profit,sehingga kira - kira badan hukum apa yang sesuai menaunginya? 
Jawaban singkatnya adalah berbentuk yayasan.Lebih lengkapnya pembaca dapat mengkroscek di Mbah Google.

2.Ada sebuah desa yang ingin meningkatkan taraf hidup namun di desa tersebut tidak ada sumber daya alam dan tingkat pendidikan warganya hanya sampai tingkat SD,Lalu bagaimana strategi penyelesaian masalahnya? 
Pertama advokasi ketua adat/tokoh masyarakat/pemerintah yang memimpin sebagai jembatan untuk berhubungan dengan masyarakat,lalu mengumpulkan statistik data mengenai kultur dan kondisi warga untuk mecari model pemberdayaan pembentuk kemandirian masyarakat yang sesuai dengan kearifan lokalnya,di sini harus ada efek pembangunan sosial yang menggabungkan kepentingan ekonomi dan sosial agar terwujud kesejahteraan sebagai indikasi/tolak ukur peningkatan taraf hidup.Kemudian dibagi menjadi dua fokus usia,bagi pemuda dan anak yang masih dalam usia sekolah akan diadvokasi bidang pendidikan,lalu usia pemuda pada masa kerja dan orang tua,akan diberikan peluang ekonomi yang beriringan dengan pembekalan pengetahuan yang mendukung keberhasilan advokasi pendidikan anak.Semuanya juga ada upaya melek huruf dan digital.

Materi kedua Sekolah Tjokro pada Sabtu,15 Oktober 2016 dibimbing oleh  Mas Muhammad Reza.S.Zaki S.H , M.A sebagai pendiri Rumah Imperium di Sumedang,Alumnus UGM, sekaligus Dosen di Binus Jakarta.Beliau menyampaikan generasi saya merupakan generasi yang achivement oriented,yakni bukan era yang hanya dapat mengandalkan motivasi untuk bergerak,tidak percaya hanya dengan pemaparan wacana,dan mau terlibat dalam penyelesaian masalah namun apatis terhadap politik.Dalam hal apatis terhadap politik adalah hal yang harusnya tidak boleh dilakukan,karena politik adalah master of science/sumber penyelesai konflik (ada proses interaksi negosiasi),misalnya jalan raya rusak untuk dapat memperbaikinya,perlu jalan politik.Generasi saya yang bernama Z juga sangat dekat dengan digitalisasi,sehingga tidak sepatutnya generasi z berfikir konvensional seperti masa PD atau era orang tua kita,serta sepatutnya dapat mengatasi tantangan budaya praktis/instan yang dapat mereduksi ilmu pengetahuan dan inovasi berkarya.Sudah saatnya menebar jiwa kewirausahaan atau sosio-enterpreneur,karena ini masa kepemimpinan oleh manusia ahli bidang wirausaha.

Saatnya menjadi aktor sosial,bukan aktor politik yang hanya pandai berbicara di muka umum.Mulai menjadi pendengar yang baik agar dapat menciptakan strategi manajemen resiko di masa depan / menjadi visioner,sehingga tercipta karya yang menjadi bentuk eksistensi dan pengabdian diri pada Allah.

Ada dua kalimat dari Mas Zaki (pembimbing materi kedua Sekolah Tjokro) dan Mas Dewa (Mentor SMA) Yang saya sangat ingat :

Orang yang cerdas bukan yang hanya bisa menyelesaikan akademisnya dengan sempurana,tetapi yang bisa menyelesaikan masalah. -Mas Dewa

Kunci Sukses adalah ketika bisa menjadi ABG Cetar Membahana (menajdi Akademisi,Bisnis, dan merangkul Goverment,Comunity,Media) -Mas Zaki

Sekian.Terimakasih.Salam dari saya Tejaningrum.Wassalammualaikum.
Kritik dan saran Anda sangat saya butuhkan,jika ada akan diterima dengan sangat senag hati.

Komentar

Postingan Populer