Nyampah Sifat Kekanak-kanakan Versi 2

Kekanak-kanakan Itu Positif !                            


Badan boleh bertumbuh dan umur bertambah. Tapi apakah kita mampu menyesuaikan perilaku dengan status atau keadaan sosial yang dimiliki? Misal kamu sebagai mahasiswa kriminologi diharuskan mewancarai seseorang yang menjadi korban bully. Setelah selesai mewawancarai, kamu mengajukan hasil analisamu kepada dosen. Namun, dosenmu malah mengkritik tajam, sebab kamu melupakan prosedur yang membuat narasumber tertekan mengingat traumanya.

Lalu apa yang kamu lakukan untuk menanggapi sikap dosenmu? Sangat marah dilanjut mengeluh dan berkomitmen tidak akan mengambil mata kuliah yang berhubungan dengan dosen itu. Atau kamu berterima kasih atas saran dosenmu, kemudian memikirkan strategi yang bisa memperbaiki kondisi tersebut.

Selain diperlukan dukungan dari lingkungan dan pengalaman hidup, menyelesaikan masalah menurut beberapa orang juga dibutuhkan kedewasaan. Bagaimana menurutmu? Apakah belum benar jika orang dewasa memiliki sifat kekanak-kanakan?

Padahal sudah berumur dewasa, tetapi masih kekanak-kanakan

Ketika di kantor, tidak terasa sudah jam makan siang, akhirnya kamu bersama tim-mu memutuskan pesan makanan. Setibanya makanan itu, ternyata makanan yang kamu pesan tertukar dengan si A, karena teman lain salah membagikan. Tak disangkah, si A sangat marah dan berteriak kepada seluruh anggota tim “Kenapa makananku bisa tertukar!! Dimana pikiran kalian!” Meski rekan – rekan timmu mencoba meminta maaf untuk menenangkan si A, tetap tidak berhasil. Lalu apakah kamu berpendapat bahwa si A tidak bersikap dewasa ?

Dari kisah tersebut, pernahkah kamu berfikir apa yang melatar belakangi seseorang memilih bersikap tidak dewasa? Beberapa orang menganggap seorang anak di bawah usia 17 tahun yang kebetulan mampu bertanggung jawab dan memiliki sifat mandiri. Mungkin beberapa orang menganggap anak itu sangat mengagumkan. Tapi sebaliknya ketika orang diumur dewasa berperilaku dengan sifat yang ‘harusnya’ dimiliki anak – anak. Bisa jadi orang dewasa tersebut mendapat label, hingga hinaan dan celaan dari orang lain atas ‘kekanak-kanakannya’. Bukan malah dibantu mengenali dan memperbaiki sisi negatif dari sifat kekanak-kanakannya.

Seseorang yang merasa ‘disalahkan’ apalagi mendapat label tidak dewasa, akan menciptakan tindakan defensif untuk melindungi dirinya. Meskipun lingkungannya mencoba menasehati dengan cara yang baik, tapi itu tak berguna. Ia paham bahwa tindakannya memang salah, namun ibarat “Ya, aku sudah menjadi diriku sendiri, ini jati diriku, ngga peduli orang lain menganggap aku childish  atau ini sebuah kesalahan.” Selain itu, sikap defensif juga bisa ditunjukan persaan tidak berguna dan bersalah karena label yang diberikan. Sehingga membuat orang yang mendapat  lebel menghukum atau menyakiti  dirinya sendiri untuk menebus kesalahannya.

Lebih jauh Pak Soetomo Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, mengungkapkan dalam bukunya Masalah – Masalah Sosial bahwa sikap difensif dari proses labelling merupakan hasil moment of suitable. Seseorang mencocokkan sesuatu yang sebenarnya tidak benar dan tidak pas, agar tidak timbul kecemasan atau mengganggu kestabilan dirinya. Ia menyembunyikan ketakutannya. Apa kita sepenuhnya sadar bahwa ada ketakutan kita (mungkin) yang belum terselesaikan dengan cara yang tepat?

It’s fine, Jadikan sifat kekanak-kanakan sebagai solusi hidup

Masa kanak- kanak tidak pernah bisa terulang lagi. Namun sisi kekanakan dalam diri manusia akan selalu tinggal. Menurut Freud sebagai Psikolog, segalanya yang terjadi di masa lalu mempengaruhi siapa manusia itu sekarang. Jadi tugas kita sekarang, mempergunakan kedewasaan (rasional, objective, dan bertanggung jawab) agar sifat kekanak-kanakan dalam diri bisa ditempatkan di letak dan waktu yang tepat.

Di bawah akan disebutkan beberapa sifat anak – anak yang apabila diterapkan dalam keseharian, bisa jadi solusi permasalahan. Walaupun, itu permasalahan orang dewasa sekalipun.

1.      Hidup Hari Ini

Artinya yang paling penting, ya menikmati proses hari ini. Setiap hari, pasti ada sesuatu dan pembelajaran baru. Tidak peduli, kemarin melakukan sebuah kesalahan, yang bisa jadi merusak hari ini atau hari esok. Anak – anak lebih fokus menikmati belajar kerterampilan proses, sehingga mereka mudah memaafkan dan meminta maaf ketika salah. Daripada sekedar menyalahkan orang lain atas ketidakmampuannya.

2.      Totalitas Belajar

Ketika tertarik terhadap kodok, Ia tidak akan segan meluangkan banyak waktu dan menyampaikan banyak pertanyaan “Kenapa kodok punya lendir? Hidupnya di dua alam ya? Karena terbiasa hidup dinamis dan mendalam, membuat mereka terkadang mengetahui hal kecil atau sering disepelehkan oleh orang dewasa.

3.      Mampu Mengekpresikan Diri

Bisa mengekpresikan diri bukan lagi soal (hanya) mengenali dan mampu menerima emosi. Kemampuan mengekpresikan diri mendorong seseorang meningkatkan daya imainasinya. Jadi mereka akan lebih kreatif menyampaikan sesuatu dengan cara serta di waktu yang tepat. Bebas berekspresi, sekaligus tetap bisa diterima masyarakat.

4.      Egaliter

Anak – anak mau mencintai dan belajar dari siapapun, tanpa peduli apa status dan kedudukan orang tersebut. Akhirnya membuat mereka selalu jujur terhadap apa yang mereka rasakan. Kemudian tahu cara mengatasi perasaan itu, apabila tidak sesuai dengan kebaikan yang selama hidup coba dipahami anak semenjak lahir.

Bagaimana jika di dalam diri ada sisi negatif sifat kekanakan?

Tapi tidak bisa disangkal ada sifat kekanakan yang merugikan dalam kebiasaan. Sifat tersebut seperti ngambek, mengeluh, memanipulasi (tautan bersifat eksternal) untuk mendapatkan simpati, terus mencari arahan, bertindak dengan cara yang tidak teratur, tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab.

Apabila diri kita sendiri yang mengalami sifat merugikan itu, maka segera kenali penyebab kenapa kamu memunculkan sikap itu. Agar kamu tahu solusi mengatasi sikap buruk tersebut. Atau malah kamu mengetahui bahwa temanmu membutuhkan orang lain, untuk memahami blid spot-nya. Maka dekati dia, buat dia percaya bahwa masalahya bisa dipecahkan bersama.

Komentar

Postingan Populer