Fakta Sosial : Pembeda Anak Sosiatri dan Psikologi, Kemudian Sosiatri
Hallo yang baru gabung, perkenalkan namaku Teja
Kali ini aku mau membahas tentang fakta sosial. FYI aja, awalnya aku mau membahas tentang cara berdamai dengan diri sendiri dan tips gimana agar kita terbebas dari prasangka diri, sekaligus gimana caranya memperluas jangkauan diri, agar penilaian terhadap diri sendiri itu bisa objektif.
Oke, lanjut ya,
jadi di awalnya kan dunia ini tuh penuh dengan filsuf, dari proses berfikir kenapa bumi itu ada, sampai bla bla bala, akhirnya filsuf itu menambah job mereka menjadi ilmuwan juga. karena saat itu belum ada ilmuwan secara spesifik yang punya job membuat alat. Jadi para filsuf harus bisa mewujudkan solusi atas permasalahan yang mereka temuin secara mandiri. Beda dengan era hari ini yang serba mudah, misal polisi yang ingin melacak DNA pembunuh, tinggal nyerahin ke dokter di lab kepolisian.
Hingga pada akhirnya hadir dan berkembang ilmu eksakta dan kejiwaan psikologi. Tapi entah, dapat ide darimana dan atas kegelisahan apa, emile durkheim hadir dengan ide ilmu sosiologi yang ingin ia pisahkan dari anggapan bahwa ilmu sosiologi atau kemasyarakatan itu bagian dari filsafat dan psikologi. Makanya Ia menciptakan argumen tentang fakta sosial.
Fakta sosial merupakan pembeda sekaligus dasar kenapa sosiologi bisa menjadi ilmu mandiri di luar filsafat dan psikologi. Jadi kalu filsafat, udah jelas ilmu yang abstrak karena wilayah penelitiannnya alam semesta yang luas dan terlalu umum. Sedangkan psikologi, lebih bagaimana manusia bisa mengontrol diri. Psikologi mungkin juga mengamini bahwa pengalaman dan lingkungan pembentuk manusia sangat mempengaruhi perkembangannya. Tapi untuk mengatasi itu, emosi perlu dikontrol di dan dari dalam diri sendiri sehingga individu bisa mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah.
Sedangkan sosiologi dengan fakta sosialnya, ingin menjawab bahwa fakta sosial itu hasil di luar individu meskipun fakta tersebut dibuat juga oleh manusia. Misal si Ani kebetulan lahir di daerah madura yang membudayakan nikah diumur 15 tahun atau harus melakukan nilai yang sesuai. Nah, nilai itu harus diikuti Ani, padahal ani tidak ikut rundingan dan memutusi nilai itu. Oleh sebab itu, nilai yang dicontohkan sebelumnya merupakan contoh fakta sosial, dan fakta sosial itu di luar manusia, namun tetap bisa dikontrol. Untuk mengontrolnya ini, diperlukan ilmu sosiologi. Gampangnya gitu.
Mungkin, kalian taunya kalau teknik itu selalu outsosial. Padahal, teknik sosial itu banyak psikolog, psikiater, dan manager. Kalau psikolog sebatas membantu treatment penyelesaian maslaha tanpa obat, sedangkan psikiater ada kewenangan memeberi obat. Begitupun dengan manajer yang selalu diidentikkkan hanya dengan bidang ekonomi. Padahal ada juga manajer sosial, bukan sekedar manajer para artis. Salah ssatu manajer sosial yang belum eksis di indonesia adalah pekerja sosial, karena dia selalu dikaitkan dengan relawan tanpa ilmu kusus dan tidak berbayar.
Namun dalam kenyataannya tidak sepenuhnya begitu. Salaha satu ilmu yang perlu didapet pekerja sosial adaalah sosiatri.
Sosiatri itu bukan gabungan sosiologi dan psikiatri. Tapi cuma kata, fokusnya mewujudkan kesejahteraan sosial melalui pembangunan yang menggabungkan aspek sosial dan ekonomi. Nah, terkadang orang dihambat lingkungannya karena kurang kekuasaan, terlepas dia beruang atau babi hutan (becanda, sorry gak nyambung dan garing). Disitulah letak ilmu sosiatri, bagaimana kekuasaan dapat memihak orang yang berhak menerima dalam keadaan setara, sehingga terbentuk kesejahteraan umum sesuai amanat UUD 1945. Terima kasih, banyak mengalami kebingungan karena tulisan ini,
silakan diskusi denganku di kolom komen. Jika mau!
Salam my papper my passport
Komentar