Relawan Bukanlah Pekerja Sosial
Hallo gengs, kenalin namaku Teja!
Kali ini aku dateng dengan seri ala sharingku. Nah, kebetulan beberapa waktu belakangan, aku sangat resah sebenernya jalan kontribusiku itu mau kemana. Sebab jangan sampai usiaku menjadi sia - sia tak berarah, ditambah aku udah diamanahkan menjadi bagian dari institusi yang luar biasa untuk belajar.
Jadi sampailah pada bukunya Keanya soal Praktik Pekerjaan Sosial Generalis karya Cepi Yusrun Alamsyah. Sebelum kepanjangan, aku mengucap terima kasih pada Keanya. Dalam tulisan ini, pertama - tama aku akan bahas bagaimana seorang relawan tidak bisa dikatakan sebagai pekerja sosial, dan mengapa aku membahas tema tersebut. Kedua, aku akan mendeklarasikan mimpiku yang baru bisa terdefinisikan setelah dapet pelajaran dari Allah lewat buku ini, hasil minjem ke Keanyul.
Pekerjaan Sosial VS Relawan
Mungkin kalau teman - teman tidak mengenalku, atau lupa jurusanku wajarlah mengapa kamu bingung alasan di balik bahasanku ini. Perkenalkan aku teja mahasiswa S1 Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fisipol UGM. Studiku mempelajari bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa seimbang dengan perkembangan kapasitas sosial masyarakat. Tahukah kamu bahwa disiplin kesejahteraan sosial di UI atau UNPAD, maupun pembangunan sosial dan kesejahteraan UGM datang dari ilmu pekerjaan sosial?
Mungkin selama ini, apalagi di negara berkembang seperti Indonesia sering dianggap bahwa pekerja sosial adalah relawan semacam dokter, psikolog, ataupun masyarakat sipil yang terjun ke dalam aktivitas sosial tanpa ilmu dan tak berbayar. Padahal pekerjaan sosial merupakan profesi.
Profesi itu membutuhkan ilmu, kompetensi, dan kode etik, jadi tidak setiap pekerjaan yang menghasilkan uang adalah profesi misalnya maaf Pekerja Seks Komersil. Apakah PSK bekerja? iya, tapi PSK bukanlah profesi, melainkan pekerjaan biasa yang kompetensinya tidak perlu capek - capek diperoleh hingga perguruan tinggi atau melalui pendidikan terpadu.
Selanjutnya mungkin ada pertanyaan bahwa apakah dokter atau psikiater dan psikolog adalah pekerja sosial? Tentu tidak, sebab pekerjaan sosial itu mempertimbangkan aspek psikologis, fisik, dan spiritual individu atau kelompok. Kemudian pekerjaan sosial bertujuan mengembalikan dan mengembangkan kapsitas individu atau kelompok agar keberfungsian sosial mereka berjalan menuju kesejahteraan yang ingin mereka capai, sederhanya diterima masyarakat.
Jadi pekerjaan sosial merupakan ilmu yang menghubungkan manusia dengan lingkungannya, melalui proses perencanaan secara bertaham. Di mana kemudian perencanaan itulah yang sangat berguna bagi pembangunan sumber daya manusia, mak dari itu lahirlah departemenku soal kesejahteraan sosial. Lalu, dari kalimat bahwa pekerjaan sosial merupakan proses perencanaan pembangunan SDM secara berkala semakin memperjelas bahwa relawan bukanlah pekerja sosial.
Relawan sekedar membantu pelaksanaan program, sedangkan pekerja sosial adalah aktor yang mengkoordinir, memfasilitasi, evaluasi, monitoring, dan membuat strategi pelayanan masyarakat agar kembali normal pasca perubahan. Misalkan perubahan yang disebabkan bencana alam atau pergantian kebijakan instansi tertentu. Lebih jauh, pekerja sosial juga dituntut memiliki kompetensi meng-assesmen, membuat strategi perencanaan penyelesaian masalah, dan implementasi sebgai bahan evaluasi.
Prinsip Utama Pekerja Sosial
1. Mempromosikan dan Menjalankan Nilai Keadilan Sosial
Menurut PBB dalam deklarasi hak asasi manusia, keadilan sosial merupakan kondisi ideal yang menyangkut hajat setiap anggota masyarakat mempunyai hak - hak mendasar, perlindungan, kesempatan, kewajiban, dan kepentingan sosial. Hal itu disadari atas keberagaman maklhuk hidup yang tentunya memiliki keunikan dan kekuatan yang berbeda. Dari situlah, ketika berbicara soal keadilan kita harus melihat manusia secara holistik.
2. Menjaga Objektivitas dengan Berpikir Rasional dan Kritis
Poin kedua ini mengisyaratkan bahwa sebagai pekerja sosial haruslah profesional dan tidak terbawa suasana untuk mencampurkan urusan pribadi. Apalagi dalam sesi pendampingan pekerja sosial harus berfokus pada proses bagaimana klien bisa menemukan alternatif penyelesaian masalahnya secara mandiri. Sebab pekerja sosial hanya fasilitator sekaligus pemecah masalah yang dituntut berstrategi secara kreatif untuk mendorong progrs klien.
Bedakan Peran dengan Fungsi
Tentu bahwa fungsi dan peran tidak bisa dipishkan namun mereka berbeda. Seperti visi dan karir mencapai visi tersebut. Ibarat visi adalah tujuan akhir sedangkan karir merupakan alat untuk mencapai visi. Dari buku hasil pinjeman Keanyul, semua menjadi clear kalau pekerjaan sosial itu adalah peran, sedangkan fungsinya bisa dicapai dengan beragam cara, misalnya jadi advokator, broker, middle atau top manager, bahkan pembuat kebijakan. Atau kalau mau jadi akademisi dan praktisi pure sebagai pekerja sosial juga bisa.
Nah, selama ini aku resah soal pedagang atau diriku sendiri yang minim arah atau informasi pengembangan diri. Dari dulu aku suka ngajar, kalau ditanya pengen kontribusi di mana, jawabannya sektor pendidikan, tapi kok malah masuk S1 PSDK UGM. Sampailah aku di titik ini, sebagai karir puncak tentunya aku pengen jadi konsultan pendidikan terutama arah kebijakan sosial dan publik. Namun sebelum itu, tentu ada step yang harus dilalui.
Setidaknya sekarang aku tahu visiku yang bisa membawaku menyalurkan hasratku ke oreintasi pelayanan sosial dan membuat semua orang tidak takut berjuang,
"Menciptakan aktivitas bantuan profesional di sektor pendidikan yang menyediakan pembangunan kapasitas keberfungsian sosial individu sesuai mental umur, potensi, dan mimpi mereka."
Pada akhirnya institusi pendidikan adalah tempat yang tepat bagi mereka menemukan jati diri, mengaktualisasikan diri, dan berimpact bagi sekitarnya dengan informasi yang berimbang. Orang sekitar yang terkena dampak positive adalah dirinya, orang tua, keluarga, dan seluruh masyarakat sebagai subjek yang ingin ia ajak bangun bersama!
PENDIDIKAN ITU harusnya MENYENANGKAN DAN MEMERDEKAKAN SETIAP INSAN!
Membawa dirinya berdaya,
orang tua naik kasta,
dan masyarakat sebangsa sejahtera.
Bisakah aku melakukannya?
Tentu teja berjuanglah dari sekarang, dirimu mendukungmu!
Semangat dan ambisi itu berbeda niat, tidak ada yang bisa menghancurkanmu. Kamulah yang pantas mengukir dan memutuskan kehidupanmu.
KATA IBU ALLAH PASTI JADI PENOLONGMU, MAKANYA BAPAK BERPESAN BUAT MENJAGA SOLAT yang kadang lalai tak kutunaikan.
Salam My Papper My Passport, InsyaALLAH aku akan bertemu kamu, Myanmar April 2019
#TejaGoesInternational

Komentar