Benedict Anderson : Hidup Kosmopolitan dan Komperatif ala Bulai
GREETINGS
Hallo, kenalin namaku Teja!
Ada yang pernah liat katak yang sangat ceria di atas tempurung kelapa itu?
Kalau tiba - tiba keinget upin - ipin, anda tidak salah gengs, emang bener si doi. hehe.
Kenapa kok aku tiba - tiba masang gambar katak, padahal judulnya harusnya menceritakan soal hidup kosmopolitan blbabla atau paling tidak soal Benedict Anderson?
emmm, jawabannya gampang sih, aku mau sharing soal buku berjudul Hidup di Luar Tempurung karya Alm. Benedict Anderson a.k.a orang yang mempopulerkan kata Bulai, karena ngga mau dipanggil Tuan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia yang ia ajak berdialog (ya untuk belajar atau sesi wawancara pemenuhan penelitihannya).
FYI, Bulai itu punya arti orang yang kekurangan pigmen atau albino, karena lidah Indonesia gampangnya ya dipanggil BULE dah, nanti kalau nikah mau panggil palek urusan lain hehe. Nah kemudian kata bule itu disebar Ben lewat berbagai media antar lisan, komunitas interlokal/nasional, dan tentunya media elektronik secara bebas meluas. (kalau salah silakan komen untuk dikonfirmasi ya;)
Di sisi lain, kemarin aku ngeliat viewsku dikit banget, tapi aku nulis bukan ngejar views, melainkan ini adalah jejak belajarku. Lewat tulisan aku akan mengarsipkan pelajaran penting yang mungkin penting buat masa depan sekaligus pembanding demi perbaikan.
PENGANTAR
Seberapa sering sih kamu galau soal mau jadi apa nanti di masa depan, mau berkarya apa, blablabala? Kalau aku sih sering, dan itu tergambar di tulisanku sebelumnya. Nah, ceritanya setelah baca buku Om Ben nih aku jadi keinget Om Bob dan Jack Ma yang garis besar perjalanan kesuksesannya sama. Ya walaupun ketiganya bergerak di bidang yang berbeda, namun mereka sama - sama memulai dengan hal yang samar.
Jack Ma memulai karirnya sebagai seorang dosen di umurnya 25 tahun.
Om Bob mulai berwirausaha setelah memutuskan keluar dari kantor multinasionalnya di umur yang menginjak 30 - 40 tahunan.
Benedict Anderson yang tiba - tiba terpilih jadi asisten penelitian di umur 21 tahun.
Mereka bertiga tidak pernah merencanakannya, bahkan mereka sebelumnya menjalani hal yang tidak tahu arah masa depannya kek mana. Seringkali aku pribadi ataupun juga kalian, merasa sedih ya, kenapa sih diumur sekian belum bisa kayak yang lain misal sukses beli mobil, sekolah di Harvard dsb. Tanpa memandang, sebenarnya apa yang sudah kita kerjakan dan bagaimana cara pandang kita terhadap dunia serta masa depan. Oleh karena itu, untuk menuntaskan kegelisahan kita bersama aku akan memulai dengan kata - kata Om Ben yang tidak sepenuhnya aku mengerti, tapi camkan dan cerna baik - baik :
"Yang perlu dipegang teguh adalah kesiapan untuk mencari angin itu dan keberanian untuk mengikutinya manakala ia berhembus ke arahmu."
BERPETUALANGAN DI LUAR TEMPURUNG
Kebetulan kerap mendatangi kita dalam bentuk peluang - peluang tak terduga, dan kita perlu jadi cukup berani atau nekat untuk meyambarnya begitu melintas lewat. (Benedict Anderson, 2016: 182) Tapi untuk mendapat kebetulan itu ya kita harus berusaha dulu, ingat-lah semua makhluk di alam semesta ini terikat dengan hukum perubahan sesuai hubungan sebab - akibat.
Begitupun bagaimana akhirnya Om Ben mengeluarkan istilah katak yang harus keluar dari setengah lingkaran tempurung kelapa yang sering dijadikan mangkok nasi bagi orang Asia. Hal itu didasarkan pada pengalamannya membandingkan kehidupan ala Eropa-Amerika dengan Asia. Namun secara umum, beliau ingin menyampaikan kecenderungan kita untuk merasa puas dengan berasumsi kita telah mengetahui segalanya. Padahal dunia ini saja sudah begitu luas.
Keterbatasan yang tidak disadari itu, atau mungkin disadari sebagian dari mereka tapi ya sengaja dibiarkan menjadi luar biasa akibatnya. Orang menganggap sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan sebagai sesuatu yang irasional, walaupun kenyataannya hal tidak irasional itu benar adanya.
Jadilah keledai perah yang bertanya bukan untuk mengetahui kebenaran lalu bertindak melawan ketidakadilan. Ya keledai itu hanya bertanya, agar terlihat pintar?
Kemampuan bersikap komperatif tersebut didapat Om Ben setelah hidup di berbagai budaya negara lintas benua, yang kemudian juga memunculkan sikap kosmopolitanya. Memahami asumsi-asumsi dasar pemikiran mereka.(Benedict Anderson, 2016: 116)
HOMOGENITAS (PERSAMAAN) DALAM PERBANDINGAN (KOMPARASI)
Ketika berpikir bagaimana mengawali tulisan sub ini hanya tiga poin yang ingin aku sampaikan,
1. Belajar berani membuka mata, cepat haus kembali setelah puas.
2. Belajar dari berbagai orang dan bidang yang mungkin terlihat paradoks, tetapi sebenarnya ada pola persamaan atau pelajaran yang sama dan dapat diambil untuk diterapkan.
3. Dukung dua poin tersebut dengan pemahaman budaya yang komperhensif, dan bahasa adalah bahasa ekspresi atau inti dari budaya itu sendiri. Jadi jangan lelah belajar bahasa untuk pemahaman literatur yang luas.
Berikut ini kalimat - kalimat yang ku highlight,
1. Pandangan yang kosmopolitan dan komperatif dalam hidup. Tidak seperti katak pun mulai merasa tempurung itu telah mencakup keseluruhan semesta. Penilaian moral dalam gambaran ini adalah bahwa si katak itu berpikiran sempit, picik, diam terus di rumah tanpa alasan jelas merasa berpuas diri.
2. Tiga tahun belajar bahasa di ruang kelas tidak ada artinya ketimbang enam bulan berkutat di kehidupan sehari -hari di negeri asing.
3. Kebanyakan orang Indonesia rasa bercandanya kuat, dan gurauan lintas-bahasa selalu bisa mencairkan kebekuan sosial apapun.
4. Mengapa Revolusi Indonesia tak mungkin dipahami tanpa mengakui sumbangsih Jepang. Kedua Maeda berpikir tentang peran individu-individu. (BAHASA DAN MANUSIA)
5. Poin keempat adalah perlu kiranya untuk berpikir tentang situasi kita sendiri, kedudukan kelas, gender, tingkat, pendidikan, usia, dan bahasa ibu, dsb. Kau jelas tidak berada dalam posisi yang memadahi untuk berpikir secara komperatif, dikarenakan minimnya akses pada budaya lokal. Tidak terhindarkan kau memang tetap melakukan komparasi, tapi memungkinkan hanya bersifat superfisal dan naif. Periode bergulat pada bahasa baru macam itu sangatlah bagus untuk melatih diri melakukan komparasi secara serius. Poinnya komperasi sering hadir dari pengalaman keterasingan dan ketidakhadiran.
6. Karya fiktif yang datang dari fakta atau realitas nyata. Homogen itu bisa membantu saya, halaman 153.
7. Jangan sampai menjemukan mata karena tidak kreatif dan inovatif, oleh karena itu interdisipliner patut diapresiasi.
Katak - katak dalam perjuangan mereka untuk emansipasi hanya akan kalah dengan mendekam dalam tempurungnya yang suram. Katak sedunia bersatulah!
- BENEDICT ANDERSON (1936-2015)

Komentar