Ketika Humanisme Menimbulkan Konflik
Humanisme, ya itu adalah garis besar pembahasan kita kali
ini. Di mana kita akan mencoba melihat dan menyelesaikan masalah atau konflik
manusia secara manusiawi. Pernahkah kamu menyadari bahwa sebenarnya sumber
konflik dalam masyarakat kebanyakan disebabkan oleh kegagalan hubungan
manusiawi di antara mereka?
Pengertian hubungan manusiawi tidak bisa dimaknai sebatas dengan terjalinnya komunikasi antar manusia. Menurut Onong.U.Effendy selaku pakar ilmu komunikasi, ciri hakiki hubungan manusiawi bukanlah soal fisik manusia, melainkan proses rohaniyah manusia yang tertuju pada kebahagiaan berdasarkan watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, tingkah laku, dan segala aspek kejiwaan di dalam diri manusia. Oleh karena itu, seringkali proses komunikasi yang gagal menyampaikan pesan kemanusiawian bisa menimbulkan konflik. Misalnya saja, perang suku ber-atas-nama-kan keyakinan dan konflik kelas antar buruh dan koorporasi.
Pengertian hubungan manusiawi tidak bisa dimaknai sebatas dengan terjalinnya komunikasi antar manusia. Menurut Onong.U.Effendy selaku pakar ilmu komunikasi, ciri hakiki hubungan manusiawi bukanlah soal fisik manusia, melainkan proses rohaniyah manusia yang tertuju pada kebahagiaan berdasarkan watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, tingkah laku, dan segala aspek kejiwaan di dalam diri manusia. Oleh karena itu, seringkali proses komunikasi yang gagal menyampaikan pesan kemanusiawian bisa menimbulkan konflik. Misalnya saja, perang suku ber-atas-nama-kan keyakinan dan konflik kelas antar buruh dan koorporasi.
Manusia
Proses komunikasi yang gagal menyampaikan pesan
kemanusiawaian mengindikasi tidak terpenuhinya kebutuhan akan kebahagiaan di
antara pelaku, sehingga memunculkan konflik. Atas dasar itulah, sebelum terlalu
jauh membahas humanisme agaknya kita perlu memahami watak psikologis dan obsesi
manusia.
a. Watak Psikologis Manusia
Setiap manusia diberikan anugerah berupa intelligibilia,
sensibilia, and spiritualia yang apabila dikembangkan secara optimal,
manusia dapat menemukan eksistensi dalam dirinya. Yang mana eksistensi tersebut
nantinya membantu manusia mengkontrol dan menyeimbangkan kekuatan rasionalitas
di atas pengaruh animal power dengan kesadaran akan tanggung jawab.
Dalam hubungannya dengan konflik menurut Ibn Khaldun watak
psikologis manusia akan bersumber pada dua hal,
1. Cinta pada identitas kelompok, rasa cinta ini
menimbulkan perasaan senasib dan sepenanggungan serta harga diri kelompok,
kesetiaan, ker jasama, dan saling membantu dalam menghadapi musibah atau
ancaman yang pada akhirnya membentuk kesatuan dan persatuan kelompok. Dari sini
lah mengapa ketika berbicara soal konflik, sebenarnya dalam praktiknya ada
unsur pelaku yang bergerak berdasar ikatan solidaritas sosial.
2. Agresif, McClelland menyatakan bahwa sebagaimana
hewan, manusia juga bisa bertahan hidup untuk melangsungkan hidupnya, ya
walaupun nantinya dengan kekerasan atau penganiyaan. Keadaan ini didasarkan
pada potensi animal power dalam diri manusia. Nantinya kondisi ini
dapat menjadi aktual ketika kita sampai pada pembahasan obsesi manusia.
b. Obsesi yang Dicari Manusia
1. Pencari kebebasan yang mana didasarkan pada
kebutuhan ontologis atau mencari penyebab pertama suatu kejadian dengan
mempertimbangkan ilmu pengetahuan dan unsur metafisika. Selanjutnya
kebutuhan kosmologis yang mengarah pada pembebasan diri dari segala bentuk
kekerasan atau paksaan yang dapat mengancam eksistensi hidupnya, ya
walaupun kemudian dia juga mempertahankan hidupnya dengan mengintimidasi orang
lain. Faktor kebutuhan dua terakhir yakni kebutuhan fisik dan politis
(kekuasaan).
2. Pencari Kebahagiaan ruhaniah dan jasmani.
3. Pencari kebenaran.
Humanisme
Humanisme dapat ditempatkan sebagai paradigma pemikiran yang
memperjuangkan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia. Hal itu
disebabkan kesadaran bahwa manusia adalah pusat perjuangan kebudayaan dan
peradaban yang nantimemerdekakan/membebaskan kaumnya. Jadi harusnya
humanisme memberdayakan unsur kemanusiaan secara adil, terbuka, dan empatis di
dalam berbagai sektor kehidupan. Kemudian orang yang meyakini humanisme juga
harus terbiasa dengan perbedaan, serta bersikap terbuka, inklusif, dan
mengedepankan toleransi.
Namun mengapa selama ini seringkali tidak timbul sikap yang
diharapkan pada uraian paragraf sebelumnya dalam kehidupan bermasyarakat?
Jawaban secara umum adalah keinginan manusia menonjolkan eksistensinya,
mengedepankan ego, dan kepentingan yang justru berubah menjadi tidak manusiawi
dengan menindas atau mengorbankan makhluk lain. (Baedhowi, 2008)
Muhammad Arkoun menjelaskan setidaknya ada tiga jenis
humanisme. Pertama, humanisme literal yang didominasi oleh kelompok berkuasa
secara dana dan kedudukan. Kedua, humanisme religius yang merupakan konsepsi
yang hendak mengukur ketaatan keberagamaan atau kesalehan seseorang melalui
dunia mistik. Yang mana kedua jenis yang telah disebutkan memiliki beberapa
persamaan yakni menawarkan informasi siap pakai secara rigid, tidak memberi
celah untuk mengkritisi, hingga memiliki potensi menimbulkan cinta buta yang
berujung sikap agresif. Artinya terjadi ekstrimitas pemahaman dan eksklusivitas
sikap yang menjadikan dogma diyakini sebagai sesuatu yang final dengan sikap tertutup
serta mekanik.
Nah, jenis ketiga humanisme ini disebut humanisme filosofis
yang juga akan dijadikan sebagai penutup pertemuan kita. Humanisme filosofis
mencoba hadir menengai kedua jenis sebelumnya dengan mengedepankan nalar
kritis, rasionalitas, tanpa melupakan semangat intuisi atau rasa keagamaan.
----
Referensi
Buku Humanisme Islam karangan Baedhowi, M.Ag
Buku Akar Konflik Sepanjang Zaman karangan Hakimul Ikwan
Affandi
--
Semoga Allah senantiasa membimbing dan menolong kita mendapat
ilmu pengetahuan dan berperilaku yang membebaskan (amiin)!

Komentar