Politik dan Kebudayaan


Yogyakarta, 11 Febuari 2018, di Kos

Haloo, namaku teja. Kali ini aku mau mengapresiasi diriku sekaligus cerita.
Sebagai seorang manusia yang terus bertambah usia, pasti dalam hidup ingin mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Secara pemikiran dan tindakan. Tetapi nyatanya tidak, sebab satu, aku menghindari tantangan.

Secara pengetahuan aku memahami betul kenapa seorang jack ma dan beberapa pengusaha bisa menjadi sukses, bahkan kunci itu digunakan presiden km ugm. Yakni memperkaya pengalaman, sebab dari sanalah pemahaman di uji, termasuk mendudukan diri agar mendapat penerimaan. Tapi aku merasa malas, sebenarnya aku bosan, dan selalu berusaha memulai, tetapi berulang hasilnya tetap begitu

Tidak Menyerah !!!!

Ya, makanya tahun ini (2018) jika diberikan kesempatan (kesehatan, kesadaran, dan finansial), aku akan memulai journeyku sebagai manusia. Sekaligus mewujudkan keinginan tahun ini untuk ke luar negeri. Jika ternyata tulisanku lolos dan menjadi juara pertama, tahun ini aku dapet bonus, korea;malaysia;singapura.

Sudah ceritaku sampai disitu, lalu apa yang mau diapresiasi. Jadi malam ini, aku belajar apa saja yang sudah kupelajari selama 3 semester. Pengetahuan itu sangat aku perlukan untuk melangkah ke semester 4 ini.

Dari sekian banyak pelajaran, pertama- tama aku mulai dari  APA ITU POLITIK?????

-          Ada yang menjawab kemampuan untuk mempengaruhi, itu juga tidak salah.
-          Tapi Aku menjawab bahwa politik membantu seseorang melihat identitasnya dalam fenomena sosial. Karena setiap manusia memiliki kepentingan, sebagai bentuk perjuangan hidup.

-          Jadi ketika seseorang mengeluarkan kebijakan, misal ok, aku memutuskan memakai baju merah, berperilaku mendominasi. Nah perilaku itu ada latar belakangnya, alasan, hasil pikir kenapa ia memilih seperti itu

-          Di politik ada pembahasan : kekuasaan, kebaikan bersama, distribusi
-          Pembedahan dari kebijakan seseorang yang memakai baju merah di pesta pengajian yang mayoritas tamunya menggunakan putih.

-         Dari pembedahan konteks itu, ternyata seseorang itu bisa memakai baju merah sebab ia punya kuasa atas acara itu, dan baju merahnya adalah sebagai pembeda atau identitas bahwa ia pemilik acara, makanya nanti ia yang akan mendistribusikan makanan atau kebahagiaan di acara tersebut. Sedangkan para tamu berkuasa menerima distribusi sang baju merah
-         Makanya kuasa bukan soal bicara kuat saja, tapi seseorang yang sadar dan mampu menentukan pilihan atau bersikap

Tapi soal kebaikan bersama kok belum tuntas dibahas?  Tenang dulu, dalam acara tersebut ternyata si baju merah memutuskan untuk melakukan rangkaian acara model A. Serta untuk pembagian hadiah pulang ia melakukan pembedaan berdasarkan usia.

Untuk membedah keputusan baju merah, dibutuhkan peran institusi sosial atau kebudayaan yang dilamnya ada norma dan stratifikasi sosial. Sebelum lebih jauh, kebudayaan merupakan kebiasan yang berulang sehingga menjadi tolak ukur. Nah norma berperan menjadi pedoman untuk menjaga keselarasan budaya itu sendiri agar lestari. Kemudian, dalam budaya tersebut ada pembagian kerja atau peran. Hal tersebutlah menyebabkan terciptanya stratifikasi sosial.

Kembali ke pembedahan. Si baju merah memilih untuk menerapkan model A sebab ia datang dari kelompok wilayah A, sehingga pertimbangan normanya (baik atau salah) dari tradisi wilayahnya. Sedangkan soal pembagian, itu dilandasi oleh kesadaran dia akan stratifikasi sosial atau kedudukannya sebagai seorang yang punya hajatan dan tamunya dari beragam usia yang memiliki kebutuhan yang berbeda.

Buruknya dari kebudayaan adalah munculnya cara pandang dan primodialisme sebagai konstruksi sosial yang belum tentu benar sehingga mendatangkan masalah sosial, karena ada proses menghegomoni. Sebab kebaikan bersama datang dari hasil keputusan/kosekuensi adanya kebudayaan.

1.       Kebudayaan diciptakan merujuk pada kebutuhan manusia sendiri yang butuh tempat bergantung, kejelasan, dan kemapaman.
2.       Masalah sosial yang berawal dari kebudayaan manusia sendiri, membuat cara melacak sumber dan penangan yang tepat untuk masalah adalah dengan melihat paradigma yang digunakan.
3.       Dalam ilmu sosial ada 3 paradigma
-          Fakta sosial : melihat perubahan, konflik (nilai), dan struktur sebagai sistem. Biasanya untuk mengecek atau mendapat data bisa dari kegiatan interview.
-          Defenisi sosial : bagaimana manusia memaknai sesuatu, makanya butuh observasi untuk melihat hubungan mengapa ia berperilaku begitu ada pemaknaan simbolik yang seperti apa.
-          Terakhir, perilaku sosial : pembiasaan dari proses tradisi budaya. Jadi bisa melalui kuisioner saja, sebab dalam kasus itu sudah ada pembiasaan, beda dengan defini sosial yang dibutuhkan analisa atau proses berpikir memahami fenomenologi dulu.
4.       Agar tidak terjebak kita butuh menguji kebenaran dengan metode ilmiah, agar logis selaras, dan ingat ada penyebab yang berhubungan dengan akibat.


Komentar

Postingan Populer