Berfikir Alternatif

Hallo, kenalin namaku Teja, kali ini aku mau membahas tentang kerangka berfikir ilmiah. Apa pentingnya membahas ini? Jawabannya agar kita menghindari kesesatan dalam memandang atau menyikapi isu.

Selama ini, pasti sering denger kata kata, kalau mikir tuh pake otak. Nah, emang ngga ada salahnya bilang seperti itu, karena secara kasat mata, otak adalah indra pusat aktivitas manusia. Tapi yang menjadi alat manusia dalam mengelolah dan mengklasifikasikan data adalah akal, yakni fungsi "otak" secara spiritual, dia ada dan bekerja namun tak terlihat. Sering kali, cara berfikir dibedakan dg rasional yang basis pembuktiaannya ide, dan empiris yang seluruh hal benar ketika ada bukti fisik.

Padahal jika keduanya berjalan sendiri, akan pincang, makanya aku sebut berpikir alternatif, untuk menggabungkan keduanya. Agar hasil pikir kita komplet atau ngga miss. Sebab kebenaran ilmiah itu sifatnya kumulatif, saling melengkapi dalam prosesnya.

Ketika kita ngomongin cara berfikir yang benar kan mesti harus ada standartnya. Syaratnya sebenernya cukup mudah. Semua hasil pikir kita harus selaras, jadi akan selalu ada penyebab di balik akibat. Sehingga konsisten begitu, meskipun diuji berulang kali. Misalnya gravitasi yang menyatakan benda akan selalu jatuh ke bawah, maka ketika pensil dan batu dijatuhkan oleh manusia atau sesuatu yg menggerakkan pasti arahnya ke bawah.  Ingat pensil dan batu tidak mungkin jatuh tanpa penyebab.

Okey, aku kan sekarang dah tau syarat sesuatu hasil pikir dikatakan benar. Tapi untuk mendapatkan kebenaran, gimana prosesnya?

Menurut aritoteles, harus berpikir secara deduktif induktif, lalu hasil pikir deduinduk diuji melalui observasi (termasuk proses pengumpulan data). Baru didapat hasil (berupa definisi dan klasifikasi)



Kemudian aku berpikir, kalu udah sampe situ, ada pertanyaan terakhir, bukannya kebenaran itu relative bergantung sumbernya. Bahkan terkadang antar sumber bisa saling bertolak belakang. Oleh sebab itu, aku mulai mencari bagaimana seseorang bisa mendekati kebenaran universal.....sampailah aku sadar betapa pentingnya iman, ilmu, amal....Bukan sekedar amal kita dapat dipertanggungjawabkan karena dilandasi ilmu yang iklas ditujukan hanya untuk Tuhan.


Tapi dari ketauhitan itulah manusia yang berpikir mampu memenuhi syarat kebenaran yang harus selaras.

Dr Mahdi Bulsyani mengatakan, " Suatu keyakinan kokoh pada tauhid membuat sang peneliti memfokuskan pandangan secara menyeluruh kepada alam. Bukannya hanya melihat alam secara sepotong-potong. Hal itu membuatnya mampu menyelesaikan keselarasan dan tatan dunia."


Sampai di sini PR nya adalah bagaimana peneliti menerapkan berpikir alternatif menggunakan ketauhitan mereka, untuk menciptakan alat atau formula penyelesaian masalah masyarakat.


Jadi baca next chapter ya


Salam My Papper My Passport.

Komentar

Postingan Populer