Di balik Kata Goblok Om Bob
Tulisan ini teruntuk kita yang sedang dilanda kekhawatiran, sebab pikiran akan masa depan yang masih terlihat kabur. Atau mungkin saat ini, sebenarnya ingin hati, keluar dari lingkaran, tapi sekali lagi, “Aku merasa takut, karena banyak orang di belakangku, yang harus dipikirkan, ini keputusan sulit.”
Jika di antara kalian sempat merasakan ketakutan yang sama, lalu meluangkan waktu membaca artikel tentang job insecurity. Adakah pikiran bahwa isi yang coba disampaikan terlalu naïf, sehingga tidak mungkin menyelesaikan masalah. Apalagi, ini era kapitalisme, “Menghabisi atau dihabisi.” Oleh sebab itu, kali ini, mari kita belajar menempatkan kiat bodoh itu, dari sosok Bob Sadino, yang merupakan pengusaha, sekaligus ikon perintis ayam broiler di Indonesia. Hemat Beliau, jika kita ingin sukses, cukup “Jus do it, layaknya orang goblok.”
Separuh, di balik kata Goblok
Goblok adalah kata andalan Bob Sadino, ketika bereaksi atas tindakan atau pernyataan orang lain. Pada umumnya, arti goblok selalu dekat dengan pemaknaan negatif, namun perkataan Om Bob bukannya tanpa alasan. Pernah suatu ketika, seorang wartawan bertanya, “Sebenarnya apa yang menjadi tujuan seorang Bob Sadino, sehingga dapat meraih kesuksesan yang luar biasa?” Dengan santai Beliau menjawab, “Saya tidak punya tujuan, apalagi harapan meraih kesuksesan. Kalau bisa rugi, kenapa tidak.”
Mungkin nalar beberapa orang enggan menerima pernyataan nyeleneh Om Bob, termasuk wartawan yang telah menyusun pertanyaan secara matang sebelumnya, tetapi menjadi berantakan karena hal itu. Sebenarnya jika kita mau lebih dalam memaknai maksud Beliau, pesan yang ingin disampaikan adalah teruslah berproses, sehingga jadilah manusia yang merdeka, dengan pikiran terbuka.
Segala hal di dunia ini bersifat fana. Ketika lapar, kemudian kamu makan. Tentunya, kamu akan merasa kenyang, plus senang. Tapi apakah rasa kenyang, lapar, dan senang terus kamu rasakan? Bisa dipastikan tidak, begitupun peluang hidup. Terkadang kita dapat bersenang – senang, karena pencapaian yang sukses kita raih. Namun perlu diingat, untuk meraih kesuksesan itu, ada harga yang harus dibayar. Hal itu dapat dilihat sebagai kerugian, sebab ada saat kita harus kehilangan waktu beristirahat.
Di sisi lain, ada kalanya juga saat berproses meraih kesuksesan, rasa ingin menyerah hadir dan berteriak, “Hentikan usahamu, semua akan sia – sia saja.” Atau sempat mengalami kegagalan, karena tidak mampu menangkap sinyal bahaya. Di sini lah, peran penting menjadi goblok.
Makna penuh, di balik kata Goblok
Apa arti goblok yang kalian ketahui? Bodoh? Ya, benar sekali. Kemudian, apakah orang bodoh selalu melakukan hal negative? Itu semua kembali ke sudut pandang, yang kalian gunakan. Tapi menurut Om Bob, setidaknya ada hal positive yang dilakukan orang bodoh. Mereka melakukan segalanya tanpa syarat. Melangkah sebebas keinginan nurani. Jadi yang penting adalah jalan dulu, kerjakan maksimal dulu, tanpa berharap pujian ataupun upah berlimpah. Lebih jauh, mereka sadar, bahwa dirinya adalah seseorang yang bodoh, sehingga harus selalu menempatkan diri sebagai pembelajar, dan siap belajar dengan siapapun.
Ketika melakukan proses belajar, mereka tidak pernah merasa dirinya paling tahu, serta selalu jujur ketika tidak memahami sesuatu, makanya banyak hal yang bisa mereka pelajari. Lebih hebatnya, menjadi orang bodoh adalah ketika menghadapi kegagalan, bukannya stress, tapi karena terlalu bodoh, ia berkata, “Gagal, ya coba lagi, terus begitu sampai berhasil.”
Kalaborasi inisiatif dan kreativitas
Aku punya pertanyaan untuk kalian. Sebelum tahun 70-an Om Bob adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan pelayaran, yang membuatnya berlimpah uang dan bisa keliling Eropa. Hingga setelah era itu, Beliau beralih profesi menjadi pengusaha dalam bidang ternak ayam broiler di Jakarta, Indonesia. Menurut kalian, bagaimana alur perjalanan perubahan karir Beliau?
Bagi sebagian orang yang sudah membaca biografi Bob Sadino, pasti sudah tau jawaban tepatnya. Namun untuk seseorang yang terbiasa dengan konsep, habis A kemudian B, lalu C. Ada kemungkinan menjawab, keputusan menjadi pengusaha, diambil setelah Om Bob mendapat modal yang cukup dari pekerjaan lamanya. Ibarat pepatah orang tua, setelah bekerja dan mendapat uang cukup, baru buka usaha.
Memang tidak salah sepenuhnya, karena dari hasil pekerjaannya, Bob Sadino dapat menjadi sopir taksi, dengan mobilnya. Tetapi yang mendasari, keputusannya berhenti, adalah rasa stress menghadapi tekanan dari sang atasan.
Di tengah jalan, tak disangkah mobilnya mengalami insiden, yang membuatnya rusak parah. Akhirnya, karena tidak mampu memperbaiki, Om Bob menjadi kuli bangunan. Namun penghasilan yang minim tidak cukup menutupi tanggungan hidupnya dan keluarga. Kabar itu, menyeruak di kalangan sahabatnya, sehingga salah satu sahabatnya, menyarankan untuk berternak ayam. Dengan modal satu ayam pemberian sahabat dan belajar dari majalah langganan yang diimpor dari Belanda, usaha dimulai.
Di awal usaha, telur hasil produksi Om Bob, tidak begitu dilirik oleh masyarakat Indonesia yang tak biasa dengan ukuran telur besar. Tak kehilangan akal, sekitar lingkungannya kebanyakan adalah penduduk luar, dilihatnya sebagai peluang. Ternnyata benar, ketika mencoba menawarkan telur kepada mereka, responnya luar biasa. Bukan hanya karena telurnya berkualitas, tetapi pembeli merasa sangat terhormat, membeli telur Om Bob yang telah disisipi setangkai anggrek. Di luar Indonesia, harga anggrek tak semurah di Indonesia.
Goblok adalah kunci bisa berdamai dengan diri
Beberapa pihak belum mampu menerima keputusan Bob Sadino bercelana pendek di acara apapun, kecuali ketika beribadah. Apalagi cara berfikirnya yang lompat – lompat, sehingga sulit dicerna dan diterima. Namun, bukannya tidak mau memperbaiki diri, tapi konsistensi diri yang ditunjukannya, merupakan bentuk penerimaan dirinya.
Seseorang mampu menerima dirinya, ketika telah memahami siapa dirinya. Dalam hidupnya, Bob Sadino memutuskan mengikuti anjuran Tuhannya untuk membaca (iqra), bukan kitab suci saja yang dibaca, tapi lebih jauh fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Agar selalu ingat, bahwa pengetahuan kita akan selalu terbatas. Jadi harus terus belajar, dan berproses seperti orang goblok (tidak tau apapun, makanya haus ilmu pengetahuan). Landasan itu juga, yang menyadarkan Bob Sadino untuk selalu memperluas (silaturahmi) jaringan pertemanan. Dia butuh orang lain, untuk melengkapi kemampuannya yang terbatas.
Sebagai seorang psikolog, Douglas Hinzmant menyatakan bahwa proses belajar yang dilakukan berluang, dapat mengasah kepekaan sosial dan kemampuan seseorang dalam memaknai (berefleksi) hidup. Hal itu berdampak pada kebijaksanaan dalam rangkah mengkontrol diri.
Jika di antara kalian sempat merasakan ketakutan yang sama, lalu meluangkan waktu membaca artikel tentang job insecurity. Adakah pikiran bahwa isi yang coba disampaikan terlalu naïf, sehingga tidak mungkin menyelesaikan masalah. Apalagi, ini era kapitalisme, “Menghabisi atau dihabisi.” Oleh sebab itu, kali ini, mari kita belajar menempatkan kiat bodoh itu, dari sosok Bob Sadino, yang merupakan pengusaha, sekaligus ikon perintis ayam broiler di Indonesia. Hemat Beliau, jika kita ingin sukses, cukup “Jus do it, layaknya orang goblok.”
Separuh, di balik kata Goblok
Goblok adalah kata andalan Bob Sadino, ketika bereaksi atas tindakan atau pernyataan orang lain. Pada umumnya, arti goblok selalu dekat dengan pemaknaan negatif, namun perkataan Om Bob bukannya tanpa alasan. Pernah suatu ketika, seorang wartawan bertanya, “Sebenarnya apa yang menjadi tujuan seorang Bob Sadino, sehingga dapat meraih kesuksesan yang luar biasa?” Dengan santai Beliau menjawab, “Saya tidak punya tujuan, apalagi harapan meraih kesuksesan. Kalau bisa rugi, kenapa tidak.”
Mungkin nalar beberapa orang enggan menerima pernyataan nyeleneh Om Bob, termasuk wartawan yang telah menyusun pertanyaan secara matang sebelumnya, tetapi menjadi berantakan karena hal itu. Sebenarnya jika kita mau lebih dalam memaknai maksud Beliau, pesan yang ingin disampaikan adalah teruslah berproses, sehingga jadilah manusia yang merdeka, dengan pikiran terbuka.
Segala hal di dunia ini bersifat fana. Ketika lapar, kemudian kamu makan. Tentunya, kamu akan merasa kenyang, plus senang. Tapi apakah rasa kenyang, lapar, dan senang terus kamu rasakan? Bisa dipastikan tidak, begitupun peluang hidup. Terkadang kita dapat bersenang – senang, karena pencapaian yang sukses kita raih. Namun perlu diingat, untuk meraih kesuksesan itu, ada harga yang harus dibayar. Hal itu dapat dilihat sebagai kerugian, sebab ada saat kita harus kehilangan waktu beristirahat.
Di sisi lain, ada kalanya juga saat berproses meraih kesuksesan, rasa ingin menyerah hadir dan berteriak, “Hentikan usahamu, semua akan sia – sia saja.” Atau sempat mengalami kegagalan, karena tidak mampu menangkap sinyal bahaya. Di sini lah, peran penting menjadi goblok.
Makna penuh, di balik kata Goblok
Apa arti goblok yang kalian ketahui? Bodoh? Ya, benar sekali. Kemudian, apakah orang bodoh selalu melakukan hal negative? Itu semua kembali ke sudut pandang, yang kalian gunakan. Tapi menurut Om Bob, setidaknya ada hal positive yang dilakukan orang bodoh. Mereka melakukan segalanya tanpa syarat. Melangkah sebebas keinginan nurani. Jadi yang penting adalah jalan dulu, kerjakan maksimal dulu, tanpa berharap pujian ataupun upah berlimpah. Lebih jauh, mereka sadar, bahwa dirinya adalah seseorang yang bodoh, sehingga harus selalu menempatkan diri sebagai pembelajar, dan siap belajar dengan siapapun.
Ketika melakukan proses belajar, mereka tidak pernah merasa dirinya paling tahu, serta selalu jujur ketika tidak memahami sesuatu, makanya banyak hal yang bisa mereka pelajari. Lebih hebatnya, menjadi orang bodoh adalah ketika menghadapi kegagalan, bukannya stress, tapi karena terlalu bodoh, ia berkata, “Gagal, ya coba lagi, terus begitu sampai berhasil.”
Kalaborasi inisiatif dan kreativitas
Aku punya pertanyaan untuk kalian. Sebelum tahun 70-an Om Bob adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan pelayaran, yang membuatnya berlimpah uang dan bisa keliling Eropa. Hingga setelah era itu, Beliau beralih profesi menjadi pengusaha dalam bidang ternak ayam broiler di Jakarta, Indonesia. Menurut kalian, bagaimana alur perjalanan perubahan karir Beliau?
Bagi sebagian orang yang sudah membaca biografi Bob Sadino, pasti sudah tau jawaban tepatnya. Namun untuk seseorang yang terbiasa dengan konsep, habis A kemudian B, lalu C. Ada kemungkinan menjawab, keputusan menjadi pengusaha, diambil setelah Om Bob mendapat modal yang cukup dari pekerjaan lamanya. Ibarat pepatah orang tua, setelah bekerja dan mendapat uang cukup, baru buka usaha.
Memang tidak salah sepenuhnya, karena dari hasil pekerjaannya, Bob Sadino dapat menjadi sopir taksi, dengan mobilnya. Tetapi yang mendasari, keputusannya berhenti, adalah rasa stress menghadapi tekanan dari sang atasan.
Di tengah jalan, tak disangkah mobilnya mengalami insiden, yang membuatnya rusak parah. Akhirnya, karena tidak mampu memperbaiki, Om Bob menjadi kuli bangunan. Namun penghasilan yang minim tidak cukup menutupi tanggungan hidupnya dan keluarga. Kabar itu, menyeruak di kalangan sahabatnya, sehingga salah satu sahabatnya, menyarankan untuk berternak ayam. Dengan modal satu ayam pemberian sahabat dan belajar dari majalah langganan yang diimpor dari Belanda, usaha dimulai.
Di awal usaha, telur hasil produksi Om Bob, tidak begitu dilirik oleh masyarakat Indonesia yang tak biasa dengan ukuran telur besar. Tak kehilangan akal, sekitar lingkungannya kebanyakan adalah penduduk luar, dilihatnya sebagai peluang. Ternnyata benar, ketika mencoba menawarkan telur kepada mereka, responnya luar biasa. Bukan hanya karena telurnya berkualitas, tetapi pembeli merasa sangat terhormat, membeli telur Om Bob yang telah disisipi setangkai anggrek. Di luar Indonesia, harga anggrek tak semurah di Indonesia.
Goblok adalah kunci bisa berdamai dengan diri
Beberapa pihak belum mampu menerima keputusan Bob Sadino bercelana pendek di acara apapun, kecuali ketika beribadah. Apalagi cara berfikirnya yang lompat – lompat, sehingga sulit dicerna dan diterima. Namun, bukannya tidak mau memperbaiki diri, tapi konsistensi diri yang ditunjukannya, merupakan bentuk penerimaan dirinya.
Seseorang mampu menerima dirinya, ketika telah memahami siapa dirinya. Dalam hidupnya, Bob Sadino memutuskan mengikuti anjuran Tuhannya untuk membaca (iqra), bukan kitab suci saja yang dibaca, tapi lebih jauh fenomena yang terjadi di alam semesta ini. Agar selalu ingat, bahwa pengetahuan kita akan selalu terbatas. Jadi harus terus belajar, dan berproses seperti orang goblok (tidak tau apapun, makanya haus ilmu pengetahuan). Landasan itu juga, yang menyadarkan Bob Sadino untuk selalu memperluas (silaturahmi) jaringan pertemanan. Dia butuh orang lain, untuk melengkapi kemampuannya yang terbatas.
Sebagai seorang psikolog, Douglas Hinzmant menyatakan bahwa proses belajar yang dilakukan berluang, dapat mengasah kepekaan sosial dan kemampuan seseorang dalam memaknai (berefleksi) hidup. Hal itu berdampak pada kebijaksanaan dalam rangkah mengkontrol diri.
Hidup tidak lagi terbelah menjadi dua, hitam; putih, terang; gelap, salah; benar. Melainkan sama saja. Tapi apakah kita sudah iklas menjalani hidup dengan sesama, tanpa ada lagi keinginan dan harapan, yang harusnya hanya ditujukan sepenuhnya pada Tuhan yang diyakini atau alam semesta? -Dodi Mawardi, Penulis Belajar Goblok Dari Bob Sadino
Komentar