Belajar Kebenaran Dari Skandal One Direction
Pernahkah kamu mengidolakan seseorang? Misalnya One Direction yang sempat menggemparkan pasar musik, dengan penjualan album sebesar 12 juta copy dalam kurun waktu setahun. Directioner, sebutan penggemar One Direction begitu mendukung kesuksesan idolanya yang berhasil menggugah semangat hidup. Dukungan itu, dibuktikan Directioner sejati dengan berusaha keras menabung, bahkan membujuk orang tua, agar mendapat kesempatan memiliki CD dan melihat konser live mereka.
Sampai di tahun 2014, loyalitas Directioner diuji, sebab salah satu personel 1D terjerat skandal ganja. Rumor tersebut membuat orang tua dan institusi di beberapa negara menghalangi masyarakat yang ingin menyaksikan tur Where We Are. Dampaknya penjualan tiket-pun anjlok. Meski tidak ada hubungannya kualitas konser musik dengan skandal, tetapi kekhawatiran orang tua yang berlebihan meruntuhkan logika itu. Akhirnya sebagian Directioner yang kebanyakan remaja dan terhambat izin orang tua, membuat gerakan dukungan melalui berbagai media sosial untuk melawan hujatan pihak kontra.
Salut untuk Directioner yang mampu menggalang massa di antara mereka, sehingga satu suara tetap mendukung sang idola. Sayangnya dukungan mereka yang terkesan dalam benak beberapa orang tua adalah mewajarkan penggunaan ganja oleh 1D. Hal itu menyebabkan orang tua akhirnya cuma mempercayai bentuk loyalitas anak mereka as Directioner hanyalah cinta buta.
Kebenaranmu, bisa jadi bukan kebenaranku
Pendapat beberapa pihak terkait skandal ganja One Direction
Pemuka agama : “Jangan membuat generasi muda kita terpengaruh hal buruk. Kenapa kita harus menghadirkan One Direction yang sudah jelas meracuni publik. Para orang tua harus menghentikan anak mereka membeli tiket konser mahal dari penghisap ganja.”
Penggemar : “Liam, kita tahu kalian ngga salah apa – apa, hetikanlah. Kami memahami bahwa kalian hanya manusia biasa yang kebetulan berusia muda. Media yang terlalu berlebihan. Semangat! Directioners selalu ada di belakang kalian.” (Respon atas cuitan perminta maafan Liam Leader)
Kebenaran adalah standart ukuran yang digunakan manusia dalam mencari kepastian, agar tidak celaka saat bersikap. Sebelum membahas kedua dialog pembuka, apa kamu sempat tau serial Dora The Explorer? Sebelum melakukan perjalanan, Ia selalu mengajak penonton melihat peta untuk memastikan kebenaran alur menuju lokasi tujuan. Jika jalur yang dilewati Dora salah, Ia akan bertemu dan harus melawan monster hutan. Jadi kepastian akan kebenaran sesuatu bisa mengurangi rasa khawatir akan ancaman, potensi penolakan diri atau orang lain atas suatu realitas, serta perubahan.
Lebih jauh, sebenarnya ada pelajaran di balik sikap Dora yang selalu bertanya kepada penonton, apakah lokasi yang ditunjukan Peta benar atau salah. Yakni kita membutuhkan banyak orang lain untuk melengkapi pengetahuan yang luput, serta menguji pemahaman. Proses itu membantu kita mempertimbangkan bahkan menyaring bagian pemahaman yang berpotensi negatif, seperti spekulasi dan provokasi. Selain itu keberagaman pendapat orang yang kita ajak diskusi, juga dapat mengasah kemampuan memahami penyebab seseorang berargumen begitu atau begini. Jadi tidak langsung memberi label, namun tetap menghargai sebagai sesama manusia yang pasti ada kisah di balik kata mereka. Tapi tidak serta merta membenarkan, jika ternyata perilaku atau pendapat tersebut memang salah.
Thomas Khun sebagai filsuf sekaligus ilmuwan menjelaskan, bahwa perbedaan paradigma yang digunakan manusia disebabkan oleh faktor budaya. Budaya adalah kebiasaan yang diciptakan manusia untuk menjaga keselarasan ketika hidup bersama dalam masyarakat. Di mana saat menjalankan kebiasaan, ada pedoman perilaku yang harus diikuti, berupa norma sebagai tolak ukur benar atau salah. Lebih jauh, budaya sendiri telah menjadi identitas pembeda bagi individu atau kelompok. Setiap lingkungan hidup pasti memiliki kearifan lokal, sehingga di dunia ini kebenaran itu relatif. Contoh sederhana, walaupun esensinya sama- sama makan, tetapi di Korea jika memakai tangan langsung dianggap tidak pantas. Berbeda di India, memakai tangan langsung ketika makan dapat dianggap bentuk rendah hati dan menghargai.
Maka berhati - hatilah dengan keyakinan diri
Pernahkah kita berpikir ingin memengaruhi orang lain agar ia mau melakukan kebenaran yang kita yakini? Atau sadarkah kamu bahwa setiap manusia adalah teladan bagi manusia lain, meskipun bukan public figure? Jika keyakinan diri merupakan kebenaran objektif yang bukan sekedar pengetahuan emosional, mungkin tidak akan menimbulkan efek negatif. Tapi bagaimana jika ternyata landasan perilaku kita salah?
Sebagai makhluk sosial, hasil perilaku individu bukan sekedar dipertanggung jawabankan kepada diri sendiri, melainkan banyak pihak. Bandura sebagai psikolog juga membenarkan bahwa perilaku manusia adalah hasil pembelajarannya mengamati, bahkan meniru lingkungan sekitar pertumbuhannya. Seseorang bisa mengetahui, menggemari, bahkan menghujat One Direction dari mana, jika bukan dari informasi yang disajikan manusia lain. Meskipun disajikan data dalam pemberitaan mengenai One Direction, namun penyusunan data dan kalimat serta paradigma yang digunakan, semua bergantung pada penulis. Satu kata dalam berita dapat mengubah jalan hidup seseorang.
Setahun setelah skandal ganja, menyeruak pemberitaan media mengenai hengkangnya Zayn. Tidak disangka, salah satu Directioner melakukan percobaan bunuh diri sebagai bentuk kekecewaan. Tak berhenti di situ, berita kabar bunuh diri itu sampai ke Directioner lain melalui kekuatan media sosial. Dari situlah, Directioners lain mulai meniru dan berupaya menyikasa diri, untuk menyatakan solidaritas dan ekspreksi terpuruknya mereka selepas kepergian Zayn dari One Direction.
Sampai di tahun 2014, loyalitas Directioner diuji, sebab salah satu personel 1D terjerat skandal ganja. Rumor tersebut membuat orang tua dan institusi di beberapa negara menghalangi masyarakat yang ingin menyaksikan tur Where We Are. Dampaknya penjualan tiket-pun anjlok. Meski tidak ada hubungannya kualitas konser musik dengan skandal, tetapi kekhawatiran orang tua yang berlebihan meruntuhkan logika itu. Akhirnya sebagian Directioner yang kebanyakan remaja dan terhambat izin orang tua, membuat gerakan dukungan melalui berbagai media sosial untuk melawan hujatan pihak kontra.
Salut untuk Directioner yang mampu menggalang massa di antara mereka, sehingga satu suara tetap mendukung sang idola. Sayangnya dukungan mereka yang terkesan dalam benak beberapa orang tua adalah mewajarkan penggunaan ganja oleh 1D. Hal itu menyebabkan orang tua akhirnya cuma mempercayai bentuk loyalitas anak mereka as Directioner hanyalah cinta buta.
Pernahkah kamu terjebak dalam kekaburan pembenaran yang sebenarnya itu adalah prasangka pikiran yang dianggap sebagai kebenaran ?
Kebenaranmu, bisa jadi bukan kebenaranku
Pendapat beberapa pihak terkait skandal ganja One Direction
Pemuka agama : “Jangan membuat generasi muda kita terpengaruh hal buruk. Kenapa kita harus menghadirkan One Direction yang sudah jelas meracuni publik. Para orang tua harus menghentikan anak mereka membeli tiket konser mahal dari penghisap ganja.”
Penggemar : “Liam, kita tahu kalian ngga salah apa – apa, hetikanlah. Kami memahami bahwa kalian hanya manusia biasa yang kebetulan berusia muda. Media yang terlalu berlebihan. Semangat! Directioners selalu ada di belakang kalian.” (Respon atas cuitan perminta maafan Liam Leader)
Kebenaran adalah standart ukuran yang digunakan manusia dalam mencari kepastian, agar tidak celaka saat bersikap. Sebelum membahas kedua dialog pembuka, apa kamu sempat tau serial Dora The Explorer? Sebelum melakukan perjalanan, Ia selalu mengajak penonton melihat peta untuk memastikan kebenaran alur menuju lokasi tujuan. Jika jalur yang dilewati Dora salah, Ia akan bertemu dan harus melawan monster hutan. Jadi kepastian akan kebenaran sesuatu bisa mengurangi rasa khawatir akan ancaman, potensi penolakan diri atau orang lain atas suatu realitas, serta perubahan.
Lebih jauh, sebenarnya ada pelajaran di balik sikap Dora yang selalu bertanya kepada penonton, apakah lokasi yang ditunjukan Peta benar atau salah. Yakni kita membutuhkan banyak orang lain untuk melengkapi pengetahuan yang luput, serta menguji pemahaman. Proses itu membantu kita mempertimbangkan bahkan menyaring bagian pemahaman yang berpotensi negatif, seperti spekulasi dan provokasi. Selain itu keberagaman pendapat orang yang kita ajak diskusi, juga dapat mengasah kemampuan memahami penyebab seseorang berargumen begitu atau begini. Jadi tidak langsung memberi label, namun tetap menghargai sebagai sesama manusia yang pasti ada kisah di balik kata mereka. Tapi tidak serta merta membenarkan, jika ternyata perilaku atau pendapat tersebut memang salah.
Thomas Khun sebagai filsuf sekaligus ilmuwan menjelaskan, bahwa perbedaan paradigma yang digunakan manusia disebabkan oleh faktor budaya. Budaya adalah kebiasaan yang diciptakan manusia untuk menjaga keselarasan ketika hidup bersama dalam masyarakat. Di mana saat menjalankan kebiasaan, ada pedoman perilaku yang harus diikuti, berupa norma sebagai tolak ukur benar atau salah. Lebih jauh, budaya sendiri telah menjadi identitas pembeda bagi individu atau kelompok. Setiap lingkungan hidup pasti memiliki kearifan lokal, sehingga di dunia ini kebenaran itu relatif. Contoh sederhana, walaupun esensinya sama- sama makan, tetapi di Korea jika memakai tangan langsung dianggap tidak pantas. Berbeda di India, memakai tangan langsung ketika makan dapat dianggap bentuk rendah hati dan menghargai.
“Di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung.”- Pribahasa
Maka berhati - hatilah dengan keyakinan diri
Pernahkah kita berpikir ingin memengaruhi orang lain agar ia mau melakukan kebenaran yang kita yakini? Atau sadarkah kamu bahwa setiap manusia adalah teladan bagi manusia lain, meskipun bukan public figure? Jika keyakinan diri merupakan kebenaran objektif yang bukan sekedar pengetahuan emosional, mungkin tidak akan menimbulkan efek negatif. Tapi bagaimana jika ternyata landasan perilaku kita salah?
Sebagai makhluk sosial, hasil perilaku individu bukan sekedar dipertanggung jawabankan kepada diri sendiri, melainkan banyak pihak. Bandura sebagai psikolog juga membenarkan bahwa perilaku manusia adalah hasil pembelajarannya mengamati, bahkan meniru lingkungan sekitar pertumbuhannya. Seseorang bisa mengetahui, menggemari, bahkan menghujat One Direction dari mana, jika bukan dari informasi yang disajikan manusia lain. Meskipun disajikan data dalam pemberitaan mengenai One Direction, namun penyusunan data dan kalimat serta paradigma yang digunakan, semua bergantung pada penulis. Satu kata dalam berita dapat mengubah jalan hidup seseorang.
Setahun setelah skandal ganja, menyeruak pemberitaan media mengenai hengkangnya Zayn. Tidak disangka, salah satu Directioner melakukan percobaan bunuh diri sebagai bentuk kekecewaan. Tak berhenti di situ, berita kabar bunuh diri itu sampai ke Directioner lain melalui kekuatan media sosial. Dari situlah, Directioners lain mulai meniru dan berupaya menyikasa diri, untuk menyatakan solidaritas dan ekspreksi terpuruknya mereka selepas kepergian Zayn dari One Direction.
Kamu adalah teladan dan suporter bagi dirimu serta orang sekitarmu. Sekecil apapun perbuatanmu, ingat itu berdampak!! - Unknown
Komentar