Bunuh Diri (Teori Durkheim)
Tulisan ini membawaku lolos magang, jadi mungkin juga bisa memacu ide kreatif kalian juga. Selamat Membaca. Salam My Papper My PASSPORT
Teori Bunuh Diri Durkheim : Solusinya
Silaturahmi J
Sebelum atau dalam proses menulis ini, aku sadar bahwa setiap
tulisan memang benar originalitasnya datang dari ide kita. Tapi, referensi juga
penting, agar setiap karya yang dihasilkan dapat dipertanggung jawabkan.
Berkaitan juga masih suasana Hari Raya Idul Fitri. Aku minta maaf ya,
karena tulisanku belum kaya akan referensi. Sehingga catatanku ke depan adalah
perbanyak lagi diskusi dan baca buku. Gimana
dengan teman - teman sendiri? Kira – kira setelah hari raya dapet pencerahan
apa nih? Mungkin inspirasi atau semangat berkarya yang baru.
Kalau boleh sharing, Alhamdulillah, hingga tanggal 28
Juni 2017. Aku mendapat pencerahan tentang hikma kenapa silaturahmi itu penting
banget. Berawal dari kedatangan Kak Ajeng ke rumah buat silaturahmi.
Menyadarkanku dua hal, yakni praktik
silaturahmi dan selalu menata ulang diri. Maksudnya , selama ini mungkin ada pemahaman
bahwa sebagai manusia selayaknya kita harus apa adanya atau jujur dalam
bertindak apapun. Misalnya perasaan yang menyatakan bahwa hari raya bukanlah
sebuah hal special. Sehingga tidak pergi berkunjung dan tidak mengucapkan selamat hari raya atau minal aidzin
bisa jadi tidak masalah. Tapi, kenyataannya itu merupakan bentuk kesombongan diri
dan kedangkalan pikiran bukan kejujuran diri.
Mengucapkan salam atau permintaan maaf dan mengunjungi saudara
bukanlah tindakan yang tidak jujur,
karena menghianati perasaan. Lebih jauh kalau difikir ulang, hal tersebut bisa
jadi awal untuk bisa membiasakan diri beradab atau bertingkah laku yang baik.
Salah satunya menjaga silaturahmi. Perna
suatu ketika aku mengikuti seminar karir yang ada pembicaraan tentang hypnoterapi.
Kemudian ada kalimat yang diucapkan terapis atau pembicara nya yang mungkin bisa
meyakinkan kita. Bahwa berpura – pura menjadi baik, kemudian dilakukan secara
berulang. Maka dampaknya ada suatu ketika di alam bawah sadar karakter baik
yang awalnya pura-pura akan menjadi bagian dari dirimu. Artinya setelah itu,
kebaikan yang kamu lakukan merupakan tindakan tulus. Atau buah dari pembiasaan
dirimu.
Dari penjelasan paragraph sebelumnya, dapat diambil pelajaran. Bahwa
konsep diri dapat mempengaruhi tindakan manusia. Karena konsep diri adalah
hasil fikir dengan akal yang mengelolah
dan menghubungkan informasi yang ditangkap indera manusia. Di sisi lain, akal
juga merupakan senjata terbesar manusia bisa bertahan hidup. Karena akal dapat
membantu manusia mempertimbangkan (mengukur) sesuatu. Misalnya memilih bersikap
rasional atau emosional. Pengaruh besar konsep diri terhadap tindakan. Diperkuat
oleh salah satu teori labeling dalam
buku berjudul Masalah Sosial yang ditulis Pak Soetomo. Dimana ketika seseorang
diberi konsep diri atau label sesuatu oleh dirinya atau orang lain.
Maka Ia akan bertindak adaptif mengikuti konsep tersebut. Dimana ide
atau tekanan lingkungan secara tidak sadar juga ikut mempengaruhi keputusan
individu bertindak. Misalnya kenapa wanita selalu dianggap makhluk lemah, hingga
ada sebagian wanita berperilaku membatasi dirinya dan menunjukan bahwa memang
mereka adalah makhluk yang lemah. Walaupun kenyatannya apabila Ia mendapatkan
kesempatan yang sama dengan gender lain, maka mereka juga dapat setara. Itu karena bias
konsep di masyarakat tentang defenisi gender dan kesalahan memahami konsep
kodrat. Contoh lain, terinspirasi dari film Tarzan. Dimana Tarzan bertindak seperti
kera. Karena lingkungan pertumbuhannya dan konsep diri yang menganggap bahwa Ia
adalah bagian dari genus kera.
Dalam Teori Bunuh Diri Durkheim tentang bunuh diri. Disebutkan
bahwa fenomena bunuh diri yang marak terjadi pada masyarakat modern. Bukan
hanya karena ketidakmampuan mengikuti kompetisi industry. Namun perasaan
terpisah atau egoistis yang dihasilkan pilihan masyarakat lain untuk
menjalankan kehidupan yang individualis-lah yang memberi tekanan batin. Sehingga
individu yang melakukan bunuh diri merasa seolah tidak memiliki alasan untuk
hidup. Padahal, tidak dapat disangkal bahwa manusia adalah bagian makhluk
sosial. Contohnya kasus bunuh diri Negara Modern seperti Singapura yang
menduduki total 9 persen warganya. Walaupun di sisi lain sitem pendidikan
Singapura menduduki peringkat teratas di Asia Tenggara.
Selain itu, lingkungan yang tidak rasional, seperti tuntutan budaya.
Misalnya kebiasaan keluarga yang apabilah salah satu anggota keluarga dianggap
membuat malu harus membunuh dirinya. Contoh lain adalah kebiasaan dikontrol
oleh orang lain. Dimana ketika orang yang mengontrol atau memberikan tempat
bergantung hilang. Maka menimbulkan seseorang yang dikontrol tidak mampu
menentukan arah hidupnya. Sehingga memutuskan bunuh diri. Seperti kasus bunuh
diri yang dilakukan oleh salah satu pria asal Indonesia secara live di
media sosial. Karena merasa hidupnya hancur setelah ditinggal kabur istrinya
yang selingkuh. Serta meninggalkan tanggung jawab seorang anak hanya pada
dirinya.
Dari cerita Tarzan terkait konsep diri dan Teori Bunuh Diri
Durkheim, menghasilkan kesadaran. Betapa pentingnya silaturahmi. Bukan sekedar
agar ketika meninggal ada yang menguburkan atau mengkremasi. Tetapi sebaliknya,
dengan silaturahmi, kita sedang menjaga hidup kita. Maksudnya kebutuhan
perlindungan, dicintai, hingga aktualisasi diri seperti pengakuan dan
kebermaknaan hidup. Hanya dapat kita peroleh jika ada interaksi dengan manusia
yang lain. Selain itu, dengan terjaganya komunikasi dengan manusia lain.
Manusia akan cenderung lebih rasional dan mampu memfilter konsep diri yang
buruk . Sehingga dapat terhindar dari perbuatan yang merugikan. Terakhir,
Keseimbangan atau ketika kontribusi di masyarakat itu bukan hanya butuh
keahlihan saja. Tapi kerjasama dengan orang lain yang bisa dimulai dengan
bersilaturahmi. Untuk memahami satu sama lain (bersikap empati dan peduli).
Kemudian saling menguatkan untuk selalu produktif berkontribusi buat
masyarakat.
Referensi
Durkheim,E.1857.Sucide : A Studi in Sociology (terj.,1952).London
: Routledge.
Komentar