Dimulai Hari yang Tidak Perna Kuduga “Inspirasi Agus Salim”
Seperti judul yang saya
berikan,tulisan ini sudah sejak lama ingin saya tulis, tepatnya satu minggu belakangan.Tiba-tiba
saya tergerak untuk menulis dan saya harus bisa menjadi penulis yang handal.Bukan
karena saya tertarik dengan dunia menulis atau memiliki idola yang dapat
menulis dengan sangat handal.Boleh dikatakan untuk menulis diary pun saya tidak
perna,selain itu seringkali ketika saya mencoba belajar untuk mengungkapkan
sesuatu lewat tulisan,begitu sulit untuk dituliskan,kata-kata tiba –tiba hilang
lalu malas dan terkadang seperti ini tulisan saya bisa menyebar ke banyak ide
yang tidak sesuai dengan judul saya.Tetapi keinginan menjadi seorang manajer
sekaligus pemimpin yang handal hingga didorong oleh kisah yang mengharuskan
saya menulis yang menjadikan kegiatan menulis harus dan segera saya lakukan.
Maaf adalah kata selanjutnya yang
harus saya ucapkan karena mengawali tulisan ini dengan kisah yang tidak
menarik.
Suatu ketika tepatnya di tempat yang
begitu membahagiakan,tempat dimana saya sering berdiskusi,disana selain ada
tempat bagi saya untuk berdiskusi,saya juga dapat meminjam buku,sehingga saat
itu saya memutuskan untuk meminjam dua buah buku yaitu tentang Agus Salim dan
kisah perjalanan masuknya islam di Indonesia.Setelah meminjam buku
tersebut,buku tersebut tidak langsung saya baca.Hingga Hari yang Tidak Perna
Kuduga itu datang.Hatiku tergerak membaca buku tentang Agus Salim hingga aku menemukan sebuah inspirasi dari
seorang yang bisa dibilang tua dengan kumis yang begitu khas, Muso menyebutnya
kumis kambing.Jadi perna suatu ketika terjadi forum yang melibatkan mereka
berdua,dalam kesempatan Muso berpidato atau menyampaikan pendapatnya,Sempat Ia
berkata pada Audience yang ditujukan untuk Agus Salim“Taukah anda
seperti binatang apakah seorang yang berjenggot dan berkumis?” ,Audience
menjawab seperti kambing,hingga kesempatan bagi Salim (sapaan akrab Beliau)
berpidato,Beliau menjawab perkataan Muso sebelumnya dengan candaan yang begitu
cerdas,yang pada intinya menyebut Muso layaknya anjing dengan tanpa kumis
maupun jenggot pada penampilannya.
Kembali pada topic bagaimana saya
dapat terinspirasi dari sosok sederhana namun bersahaja Agus Salim, memang
salah satunya adalah kehadalannya dalam berdiplomasi dengan kalimat cerdik yang
mengenah tepat sasaran.Tetapi yang begitu membuat saya menjadi teramat ingin
tahu lebih jauh tentang beliau adalah karena beliau seorang terdidik yang menjadi pendidik atau
guru (walaupun tidak ada kalimat sejarah yang berkata demikian) yang menjadikan
diskusi sebagai metode pembelajarannya,hingga dikisahkan kebanyakan pemuda yang
terlibat dalam pembentukan Indonesia selalu datang untuk berbincang dengan Agus
Salim ketika mereka mendapat sebuah kegalauan.Dalam proses itu,Salim tidak
menempatkan dirinya sebagai yang lebih tua dan memberi petuah,malainkan begitu humble
dan memberikan sebuah pernyataan yang merangsang komunikannya untuk mengambil
kesimpulan dan penyelesaian masalahnya secara tepat sesuai prespektif dan
pengembangan pikiran sang komunikan (orang yang berdiskusi dengan Agus
Salim).
Kalau boleh mengutip kata Agus Salim “Saya tidak mau mendikte.Itu
masalah dan zaman mereka,jadi merekalah yang harus menyelesaikannya”.Selain itu
tujuan,bidang,dan sesuatu yang sama yang ingin saya geluti begitu sejalan
dengan beliau sehingga saya ingin sekali mendapat skill yang bisa
membantu saya menjadi pendidik yang menyengat komunikan saya untuk bergerak ke
arah perbaikan diri dan berdampak bagi lingkungannya,dimana kalimat tersebut
saya kutip dari Mentri Pendidikan saat ini Pak Anies dalam menggambarkan
cokroaminoto yang tidak lain teman seperjuangan Agus Salim.Salutnya adalah Agus
Salim lah yang menjadi salah satu penyelamat cokroaminoto dari kehancuran
Sarekat Islam yang dilanda konflik saat itu.
Agus Salim yang begitu Idealis dan
bersahaja diakhir cerita tidak dapat dikatakan bertumbuh sekejap tanpa proses
yang panjang.Beliau dikisahkan sempat sampai Agnostik.Tetapi saya belajar
begitu banyak hal dari beliau yang bisa menjadi bekal generasi muda untuk
menjadi pemimpin yang berkepribadian ,selain hanya cerdas dan intelektual.Oleh
karenanya akan saya bahas satu persatu.
Pelajaran yang pertama menurut saya
adalah sikap kritis.Penerapan metode diskusi dalam setiap pembelajaran yang
beliau tawarkan tidaklah terbentuk tanpa proses.Sedari kecil,selain pandai ,beliau
adalah orang yang senang bertanya ataupun berdebat untuk mencari sebuah
kebenaran,hingga muncul rahasia baru yang begitu menarik beliau
ungkapkan.Beliau berkata bahwa Beliau bukanlah seorang yang pandai, hanya
saja Beliau belajar sebelum jam
belajar sekolah besok yang menjadi kunci utama beliau meraih prestasi
gemilang secara terus menerus dan mengasah kemampuan bersikap kritis dengan
tepat.
Jadi sebelum jam belajar di sekolah terjadi besok,beliau menyempatkan
diri untuk selalu belajar memahami materi atau konsep,dalam proses belajar yang
beliau lakukan terjadi pula proses pemikiran yang tidak menjadikan beliau menerima
dan memakan materi secara mentah.beliau mencoba menalar dan menguji kebenaran
konsep dengan bersikap kritis hingga memunculkan pertanyaan “Mengapa hal itu
dan ini bisa begitu atau begini? Apa yang menjadi dasar konsep?” hingga
pertanyaan lain muncul untuk menguji kelogisan sebuah konsep tersebut.Sehingga
ketika besok harus bersekolah,beliau siap menerima pelajaran dengan suasana dua
arah yaitu diskusi.Dari kegiatan yang Agus Salim lakukan,apabila kita dapat
mencermati lebih dalam,ternyata sikap kritis juga dapat mengimprove
kemampuan konseptual dan rasionalseseorang dimana kemampuan itupula yang
dibutuhkan seorang pemimpin atau manajer,selain itu sikap kritis pula yang
dapat menghantarkan seorang Agus Salim menjadi sosok yang Idelais,sumber
penyelesaian masalah,dan sosok yang mampu menerjang segala ketidakbenaran
dengan sangat cerdik,karena pemahaman yang benar.
Selanjutnya Sosoknya yang begitu humble
dan kreatif membuatnya dapat menjalin ukhuwah atau tali persaudaraan hingga
menambah link dengan siapapun secara mudah dan sangat berkesan ,serta
terjalin lama tak tergerus jaman.Kata kreatif saya gambarkan dengan merujuk
pada kemampuan beliau menggunakan situasi maupun sebuah persamaan atau hal lain
untuk dapat berkomunikasi dengan siapapun.Serta keluwesannya dalam menyikapi
seseorang dengan sangat tenang dan tepat.Perna suatu ketika beliau menghadiri
sebuah acara kerajaan luar negeri,dengan mudahnya beliau bergaul dengan sang
pangeran kerajaan yang membuat sutan syarir bertanya ,mengapa hal tersebut
dapat terjadi.Ternyata hal itu dapat terjadi karena Agus Salim dapat memulai
percakapan dengan cara yang unik menjadikan rokok kretek khas Indonesia menjadi
umpan percakapan.Dari peristiwa tersebut harapannya saya dan anda dapat mulai
menjadi orang yang humble,tidak ada salahnya kan.Jika anda mungkin
berkata “Tapi saya tidak akan perna bisa humble” maka solusinyanya
adalah awali dengan keberanian membuka diri dan menyadari hal yang harus saya
lakukan segera ini akan berdampak begitu besar bagi kontribusi saya untuk
masyarakat dunia.Kalau boleh mengutip dari Pak Anies Baswedan, pemimpin butuh
kesadaran bahwa Ia bukan hanya warga kotanya,maupun Indonesia saja,melainkan
dunia,karena kesadaran tersebut dapat berdampak pada perannya sesuai ruang
lingkup kesadarannya.
Hal ketiga yang dapat dipelajari
dari seorang Agus Salim adalah ketika kita ingin menjadi seorang manusia yang
benar-benar manusia dan pemimpin yang berdiri diatas kebenaran,patutlah kita
untuk memahami ajaran agama dengan benar,sangat mendalam,dan tidak
parsial,dengan begitu kita akan tahu dan bertindak sesuai dengan tujuan
diciptakannya manusia yaitu membangun masyarakat yang thoyibah.Melakukan
segala sesuatu atas pertimbangan kapasitas dan tujuan adanya manusia.Perna
suatu ketika Agus Salim ditunjuk sebagai pemimpin SI tetapi beliau menolak,tapi
bukan karena ia tak mampu,melainkan dengan kesadaran tinggi beliau berpendapat
bahwa ada calon lain yang begitu lebih berhak dan berkapasitas. Tujuan memimpin
bukan hanya mencari kekuasaan tapi harus ada kesadaran ,apapun yang kita
lakukan hanyalah bentuk pengabdian pada sang pencipta,selain tujuan membangun
masyarakat. Selanjutnya, harus ada kemauan
mengasah kemampuan menulis untuk meluruskan cara berfikir,hingga ketika
berbicara di depan public,kita bisa melakukannya secara efektif.Orator ulung
Soekarno,Diplomat handal Agus Salim,mengawali tindakan dan gagasan melalui
menulis,hingga berdampak pada media dan dunia.
Salam My Papper My Passport. Semoga selain cakap, saya bisa mencontoh Beliau untuk tumbuh menjadi pribadi pembelajar yang rendah hati dan humoris menghadapi dunia yang lucu kaena tragedi kekejamannya-Tejaningrum
Komentar