Sebenarnya, Dasar Masyarakat Amerika Berkarya adalah Zat Metafisika
Pengalaman
adalah hal yang paling berharga, karena dia yang membentuk akhirnya bagaimana
manusia memilih diri dan hidupnya. Kali ini aku mau merieview atau membagi apa
yang aku pahami dari isi buku Pragmatisme Sikap Hidup dan Prinsip Politik Luar
Negeri Amerika karya Albertine Minderop.
Dimulai
dari Bab Pertama yang membahas Liberialisme dan Budaya Amerika. Negara Amerika
hari ini dibentuk tidak oleh penduduk asli, melainkan imigran yang sekarang
juga coba ditahan jumlah kedatangannya. Setelah membaca bab satu barusan, ada
benang merah yang bisa diambil. Yakni, sesungguhnya Masyarakat Amerika adalah
sosok yang sangat agamis.
Oleh sebab
itu, hari ini ia melawan fundamentalis sebab ia seolah merefkelsikan dirinya,
ketika melihat mereka seolah cerminan diri. Mereka di sini berarti kaum
fundamentalis. Jika para fundamentalis memahami maksud Tuhannya secara jernih,
maka mereka akan terus belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai dasar
memeroleh kesejahteraan abadi yakni kebahagiaan di surga melalui dunia. Di sisi
lain, artinya mereka bisa menjadi kompetitor paling mengerikan bagi Amerika
yang jumlahnya tak sebanyak mereka.
Sebagai
seorang yang beragama atau berkeyakinan pada salah satu Tuhan tertentu,
menurutku Amerika telah mengamalkan setidaknya dua landasan yang sangat
dianjurkan agamaku. Sayangnya tidak sampai ke peng-amal-an secara benar dan berkelanjutan.
Apakah dua ajaran itu? Pertama soal dasar keTuhanan. Sebagai manusia ciptaan
Tuhan, sebenarnya Sang Penguasa menginginkan manusia untuk menjadi makhluk yang
merdeka karena sudah dibekali dengan akal, seperti artikel yang sudah kubahas
beberapa waktu yang lalu. Masyarakat awal Amerika melalui The American Dream meyakini Keberhasilan
seseorang tidak diperoleh dari latar belakang keluarganya, melainkan dari
kemampuan dan pendidikan orang itu sendiri.
Poin kedua
adalah kemauan belajar dan kemampuan (serta kesadaran) mengembangkan ilmu
pengetahuan atau teknologi. Masyarakat Amerika adalah survivor, sehingga mereka sadar betul bahwa akan selalu ada
perubahan yang terjadi tak terduga. Maka suatu saat kebebasan yang coba mereka
bangun bisa terenggut begitu saja. Apabila mereka tidak fokus meningkatkan
kualitas diri secara progresif. Dari situlah mereka membuat teknologi sebagai
pesawat sederhana atau alat yang memperlancar kehidupan. Jadi tidak heran jika masyarakat Amerika sangat eksploratif hingga
keblabasan eksploitatif. Namun yang sedikit menyentak adalah argumen yang
diajukan buku karya Albert ini yang menyatakan, “Titik tolak nasionalisme Amerika memiliki dua tema: demokrasi dan
teknologi serta merupakan komponen utama identitas Amerika (Stivers, 1994:34).
Teknologi bagi Amerika merupakan simbol transendental:
objek fisik yang tercermin pada cita – cita metafisik dan politis—teknologi
adalah personifikasi Amerika.”
Dari
kesadaran awal masyarakat Amerika untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik,
agar memperoleh kebahagiaan dari Tuhan (Glory, Gold, Gospel), serta beberapa
hal yang dijelaskan sebelumnya, sebenarnya Amerika adalah Sosok Agamis. Bukan
soal berTuhan atau tidak, melainkan ketaatan beserta keyakinan teguh
menjalankan segala sesuatu yang dipercaya.
Bagaimana
ya cara menjelaskannya, personifikasi Amerika terhadap demokrasi dan teknologi
pada mulanya di dasarkan atas usaha mendekatkan diri pada Tuhan, sehingga
memeroleh kebahagiaan. Nah sayangnya di satu agama yang berkembang di sana,
kebahagiaan distandartkan pada kekayaan yang dimiliki, sehingga terjadi
pergeseran tempat bergantung. Jika awalnya, Amerika bergantung atau ber-Tuhan
pada alam semesta. Kemudian bergeser menggantungkan diri pada uang atau
teknologi yang nyata secara fisik. Sebab empiris atau sesuatu yang dapat
dibuktikan eksistensinya merupakan kebenaran objective atau ilmiah.
Sumber
Minderop,
Albertine.2006.Pragmatisme: Sikap Hidup dan Prinsip Politik Luar Negeri Amerika.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Komentar