Beropini 1.0 : Akal Manusia Bisa Salah

                             Beropini 1.0

Akal adalah agama sekaligus sumber celaka bagi manusia (Buya Hamka, 2017)



Oxford Student dictionary (dalam Azra, 2000) mendefenisikan bahwa agama adalah suatu kepercayaan akan keberadaan serta kekuatan pengatur supranatural yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta.

Dalam perkembangan peradaban manusia tentunya ada berbagai pendapat soal Sang Pengatur Supranatural tersebut. Dan itu juga berlaku dalam bidang ilmu pengetahuan yang diungkapkan melalui teori sang ilmuwan.

Misalnya dalam ilmu fisika. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa tidak ada awal dan akhir dalam proses kehidupan karena energi bersifat kekal. Oleh sebab itu, diyakini bahwa  alam semesta adalah objek yang memang ada begitu saja serta mandiri mengatur dirinya sendiri seperti mesin raksasa tanpa intervensi zat yang lebih berkuasa.

Namun melui teori relativitas, Einstein membuktikan eksistensi Sang Kuasa yang disebutnya sebagai ether melalui fenomena gravitasi bumi (bumi mengorbit matahari). Jadi secara sederhana, alasan mengapa manusia tetap bisa bergerak relative bebas menapak tanah adalah karena bumi berputar sangat cepat. Dimana kondisi tersebut diakibatkan oleh angin ether yang menciptakan kecepatan berbeda dengan pola kisaran tertentu. Sayangnya, hingga hari ini ether masih menjadi misteri. Sekalipun memang telah terbukti ada kontribusi sang ether, namun tidak adanya bukti metafisika menjadikan ia seperti imajinasi. Sehingga hemat Einstein, sebut saja si Ether ini Energi Gelap.

Nah, makanya ketika manusia bertanya pada Tuhannya dimanakah dirinya. Dia menjawab bahwa Ia dekat, lebih dekat dari urat leher (Qaaf: 16). Jadi akal adalah jawaban atas keberadaan Tuhan (Akal adaah agama manusia) dan kemampuan manusia mendefinisikan dirinya sebagai makhluk berpikir.

Dari situlah, bagi manusia yang tiada berakal, tidak dibebankannya atau dimintainya pertanggungjawaban oleh Tuhan atas pilihan dan perilakunya semasa hidup. Oleh karena itu, jika ditanya dimanakah letak akal, jawabannya belum tentu di otak. Sebab manusia yang memiliki otak pun bisa berpotensi tidak mampu menggunakan akal sehatnya. Tetapi di sini ditekankan, bahwa pernyataan sebelumnya tidak sama dengan membantah bahwa memang otak adalah pusat sistem kerja organ manusia. Serta kesehatan organ manusia mempengaruhi kondisi jiwa atau akalnya.

Menurut Harun Nasution sebagai Filsuf Islam Modern, kata akal berasal dari al-aql yang berarti ALAT yang dapat digunakan manusia untuk memahami sesuatu. Maka dari itu hasil penggunaan akal bisa berpotensi membebaskan atau celaka, bergantung kondisi manusia.




F.Y.I

Jangan sampai kalian ngomongin ether sama Anak Kimia tanpa ngasih konteks. Soalnya ether juga bisa dimaknai sebagai salah satu senyawa kimia (eter) dengan gugus R-O-R' yang merupakan cairan mudah terbakar , jernih, tak berwarna, bertitik didih rendah, dan berbau khas.



Referensi

Hamka, Buya.2017.Falsafah Hidup. Jakarta: Republika.

https://www.lifepersona.com/what-does-it-mean-that-science-is-cumulative

https://fgulen.com/id/karya-karya/islam-rahmatan-lil-alamin/49248-apakah-ether-ada-jika-ia-memang-ada-apa-substansinya

https://youtu.be/AInCqm5nCzw

https://youtu.be/pINptKQYviQ



#30DaysChallangeSAPE_Day1
(Finished on May 17th, 2018)

Komentar

Postingan Populer